Yayasan Jadi-jadian?

Yayasan Jadi-Jadian?

oleh: Mohammad Affan Basyaib

(Direktur ABAT Academy)

Layar Zoom menyala malam itu. Ratusan, mungkin, pengurus yayasan, lembaga pendidikan, NGO, menyimak. Yang bicara Coach Doddy Faisal, Senior Trainer ABAT Academy. Seorang trainer kawakan di bidang SDM dan kepemimpinan. Tentu saja, diundang oleh ABAT Academy.

Acara dipandu oleh Affan Basyaib, sang Direktur ABAT Academy sendiri, yang malam itu bertindak sebagai moderator. Affan ini mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan di King Saud University, Arab Saudi. Asli Surabaya. Misinya lewat ABAT Academy mulia: meningkatkan kapasitas pengelola yayasan dan lembaga nirlaba. Biar lebih profesional, katanya.

Malam itu, tema besarnya “Manajemen Dasar Organisasi“. Coach Doddy tidak banyak basa-basi. Langsung ke inti. Pertanyaan mendasarnya adalah kumpulan orang di lembaga Anda itu jenisnya apa?

Coach Doddy lalu menyodorkan “peta”. Semacam matriks 2×2. Sumbu datarnya yaitu orientasi waktu (jangka pendek vs jangka panjang). Sumbu tegaknya adalah kekuatan sistem (lemah vs kuat). Jadilah empat kuadran, empat jenis kumpulan.

Kuadran satu didefinisikan dengan Sistem lemah, orientasi jangka pendek. Ini namanya gerombolan, kata Coach Doddy. Kumpul tanpa tujuan jelas, tanpa aturan main. Cepat terbentuk, cepat bubar. Mungkin kayak orang nonton kecelakaan di jalan.

Kuadran dua yaitu Sistem masih lemah, tapi maunya awet, jangka panjang. Ini namanya paguyuban. Atau komunitas hobi. Geng motor, arisan keluarga Bani Fulan, misalnya. Semangat kebersamaannya kuat, tapi tata kelolanya seringkali seadanya.

Kuadran tiga maksudnya sistemnya kuat, rapi, terstruktur. Tapi tujuannya jangka pendek. Selesai acara, ya bubar. Ini namanya panitia. Panitia kurban, panitia 17-an, tim sukses proyek A. Jelas tugasnya, jelas waktunya.

Kuadran empat — Nah, ini dia. Sistemnya kuat, tata kelolanya bagus, dan orientasinya jangka panjang. Inilah yang disebut organisasi sejati. Atau lembaga, institusi. Punya visi jauh ke depan, punya aturan main yang jelas, ada struktur, ada program.

Di mana letak bahayanya? “Awas jadi organisasi jadi-jadian!” seru Coach Doddy. Maksudnya? Banyak yayasan atau lembaga maunya ada di kuadran empat. Ingin langgeng, berdampak luas, turun-temurun. Tapi kenyataannya, sistem dan tata kelolanya masih lemah. Masih kayak paguyuban. Masih di kuadran dua!

Padahal akta notarisnya sudah gagah. Punya NPWP. Punya kantor. Tapi cara kerjanya belum terstruktur. Masih mengandalkan ‘one-man show‘ atau beberapa orang saja. Belum ada sistem yang mapan.

Ini tamparan halus. Sekaligus ajakan introspeksi. Yayasan Anda ada di kuadran mana? Jangan-jangan, selama ini kita merasa sudah jadi organisasi hebat (kuadran 4), padahal praktiknya masih seperti paguyuban (kuadran 2)?

Kata Coach Doddy, kalau mau jadi organisasi sungguhan, ya harus dibangun sistemnya. Harus dikelola dengan benar. Harus ada manajemen yang efektif dan efisien. Bukan sekadar semangat dan kumpul-kumpul.

PR besar tampaknya. Bagi ribuan yayasan di negeri ini. Membenahi tata kelolanya, membangun sistem. Bukan sekadar ganti papan nama.

Share