Urusan Tali Sandal
Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University, Direktur ABAT Academy)
Ada yang aneh dengan cara kita berdoa. Aneh, tapi nyata. Aneh, tapi hampir semua kita begitu.
Kita baru lari menghadap Allah kalau sudah terbentur. Kalau sudah tertimpa urusan besar.
Misalnya, musibah dahsyat. Kehilangan orang yang dicintai. Ambyar. Atau, bisnis bangkrut. Proyek gagal total. Utang menumpuk di mana-mana. Atau, divonis dokter sakit parah. Susah sembuh.
Baru saat itulah kita sibuk ingat sama Allah Azza wa Jalla. Sibuk berdoa. Tapi untuk urusan sehari-hari? Lewat.
Padahal, bukan begitu cara mainnya.
Orang yang benar-benar “dekat” dengan Allah, dia tahu bahwa semua urusan, besar-kecil, itu urusan-Nya. Tidak ada yang remeh.
Orang tua tiba-tiba marah? Itu urusan Dia. Pasangan hidup lagi ngeselin? Itu Dia juga. Anak membangkang, teman menjauh, bawahan malas-malasan? Semua itu ujian. Semua itu sinyal.
Sinyal untuk kembali pada-Nya. Minta tolong. Mengadu.
Nabi Muhammad ﷺ pernah kasih resep jitu. Beliau bersabda:
«لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ مِلْحَهُ، وَحَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ»
“Hendaklah kalian minta pada Allah semua kebutuhanmu. Semuanya. Sampai-sampai, minta garam dapur pun, minta sama Dia. Bahkan… (ini kuncinya) …mintalah tali sandal (Asy-Syis’) kalian yang putus.”
Anda tahu Asy-Syis’? Itu lho, tali sandal jepit. Tali kecil yang nyempil di antara jempol dan telunjuk kaki itu. Yang masuk ke lubang sol. Remeh? Tentu saja.
Lho, kok urusan sepele begitu harus minta ke Allah?
Nah, itu intinya. Itu kode. Kode bahwa kita ini nothing. Kita ini butuh total. Kita tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, tanpa Dia.
Dan ini yang beda bahwa Allah itu cinta kalau kita minta. Makin sering kita merengek, makin senang Dia. Makin kita sering dalam berdoa, makin Dia suka.
Bahkan, Allah itu murka kalau kita tidak mau minta.
Kebalikan total dengan manusia, bukan? Coba Anda minta tolong teman terus-menerus. Pasti dijauhi. Dianggap benalu.
Lihat doanya Nabi Musa Alaihis salam. Saat beliau lari, terdesak, sendirian, dan kelaparan, beliau mengadu:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Rabb-ku, sungguh aku sangat butuh kebaikan apa saja yang Engkau kirimkan padaku.” (QS. Al-Qasas: 24).
Sangat butuh.
Orang-orang saleh zaman dulu juga bilang: “Minta sama Allah garammu. Minta pakan ternakmu. Minta tali sandalmu.”
Mereka paham. Kalau punya hajat, dan semua jalannya terasa buntu, mereka akan berdiri di pintu-Nya Allah. Mereka mengadu: “Ya Allah, aku datang pada-Mu!“
Dan mereka tidak akan pernah terlihat berdiri di depan pintu manusia. Manusia yang (saat diketuk) pembantunya malah bilang: “Maaf, Bapak lagi tidur.”
Coba biasakan. Biasakan mengadu pada-Nya untuk semua urusan. Dari yang paling gampang, sampai yang paling bikin pusing. Soal tali sandal, soal garam, apalagi soal utang.
Pasti Anda akan temukan bahwa Dia Maha Mendengar. Dia Maha Pemurah. Dan Dia tidak pernah tidur.