Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University)
Punya pendapat itu bagus. Tapi, tidak harus setiap punya pendapat langsung kamu umumkan. Apalagi kalau pendapat itu bisa memicu masalah baru. Lihat-lihat dulu situasinya. Kadang, diam itu emas.
Saat kamu mulai berkarya—entah menulis, berbisnis, atau apa saja—kamu pasti akan berhadapan dengan “lawan”. Orang yang berusaha menjatuhkanmu dari depan, atau menikam dari belakang. Tapi, tidak harus kamu balas. Justru, membongkar kebusukan mereka hanya akan membuang waktu produktifmu. Biarkan saja.
Lalu, ada orang yang mengkritikmu habis-habisan. Mencari-cari kesalahanmu. Bahkan, mungkin merendahkanmu. Berat memang. Tapi, tidak harus kamu lawan. Apalagi kalau dia sebenarnya punya niat baik. Ambil saja pelajarannya, lalu doakan dia. Itu lebih elegan.
Kamu berselisih paham dengan seseorang? Wajar. Tapi, tidak harus kamu memusuhinya. Apalagi sampai mendoakan yang buruk-buruk. Cukup tunjukkan kalau kamu tidak sependapat, sebisamu.
Di tengah masyarakat, kita sering berkelompok. Membela mati-matian teman-teman kita. Tapi, tidak harus kamu ikut membenci orang yang dibenci oleh teman-temanmu. Prinsipmu harus jelas bahwa “Saya bersama teman saya,” bukan “Saya melawan musuh teman saya.”
Kamu menulis artikel panjang? Atau puisi berlapis-lapis? Tujuannya ingin menyampaikan pesan. Tapi, tidak harus semua orang paham detailnya. Kadang, satu kalimat inti yang sampai ke pembaca itu sudah cukup. Pesan tersampaikan. Titik.
Kamu bicara di depan umum. Pidato berapi-api. Lalu ada yang nyeletuk, “Andai saja dia diam.” Sakit hati? Tentu. Tapi, tidak harus semua orang suka gaya bicaramu. Bisa jadi, diamnya kamu di momen tertentu justru lebih bijak.
Lalu, di sebuah forum diskusi, kamu merasa paling pintar. Paling banyak tahu. Paling update. Tapi, tidak harus kamu yang mendominasi panggung. Beri kesempatan yang lain. Menjadi pendengar yang baik itu juga ilmu tingkat tinggi.
Suatu saat, mungkin kamu pernah berbuat salah pada seseorang. Menyakiti hatinya. Lalu kamu ingin menggantinya. Tapi, tidak harus dengan cara merendahkan diri setiap hari di hadapannya. Cukup akui kesalahan, perbaiki, dan berbuat baiklah padanya.
Ada juga momen ketika kamu terpaksa menyampaikan kabar buruk kepada seseorang. Kabar yang menyakitkan. Tapi, tidak harus kamu sampaikan dengan bahasa yang vulgar dan blak-blakan. Carilah cara yang paling bijak. Jaga perasaannya.
Allah Azza wa Jalla pun mengingatkan kita soal ini. Jangan-jangan, orang yang kita benci hari ini, justru akan menjadi teman terdekat kita suatu saat nanti. Siapa tahu?
عَسَى اللَّهُ أَن يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُم مِّنْهُم مَّوَدَّةً
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 7).
Namun, untuk urusan yang satu ini, ceritanya justru kebalikannya. Kalau tadi serba “tidak harus”, yang ini malah dianjurkan. Yaitu soal perasaan suka.
Kalau kamu benar-benar menyukai seseorang sebagai sahabat, sebagai saudara, katakan! Jangan dipendam. Kenapa? Sebab, benci itu bikin jiwa kita jadi sempit. Dada terasa sesak. Sebaliknya, cinta itu melapangkan. Membuat hidup terasa lebih luas dan ringan.
Dan ini bukan sekadar kata-kata bijak biasa. Ini adalah anjuran langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Pesan beliau sangat jelas dan tegas: “Jika salah seorang dari kalian mencintai saudaranya, maka sampaikanlah kepadanya bahwa engkau mencintainya.”
Singkat, padat, dan tidak perlu ditafsirkan lagi. Suka? Bilang.
Dan tidak apa-apa juga. Baik dalam urusan suka maupun benci, kamu tidak harus menjadi pemikir yang seratus persen independen. Asal jangan membabi buta. Cinta boleh, tapi jangan jadi budaknya. Benci silakan, tapi jangan sampai membutakan matamu dari kebaikannya. Fleksibel saja.