Serial Cetakan Rusak: Visi 100 Tahun (Bag.4)

Serial Cetakan Rusak: Visi 100 Tahun

oleh; Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Jadi, begini benang merah kusutnya: Gaji guru dulu selangit, kini terjun bebas. Sistem pencetak guru terbaik (SGA) kita buang, lalu miripnya dipakai Singapura yang kini melesat. Yang cerdas ogah jadi guru, yang tersisa seringkali karena panggilan jiwa yang rapuh diterpa kebutuhan perut. Akibatnya? “Cetakan rusak”, kata Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja—Ami Kadir.

Tapi, mengapa bisa separah itu? Mengapa sistem yang jelas-jelas pernah berhasil, kita bongkar? Mengapa kita seperti kehilangan arah? Ada akar lain yang lebih dalam. Akar yang mencengkeram kuat: Ketiadaan Visi Jangka Panjang.


Di Indonesia, ganti menteri sering berarti ganti total kebijakan pendidikan. Ganti rezim, ganti kurikulum. Ganti nama. Ganti istilah. Orientasi pendidikan ikut berubah. Diobrak-abrik. Guru, siswa, orang tua, semua dibuat pusing tujuh keliling beradaptasi. Belum sempat paham yang lama, sudah datang yang baru.

Tapi di Inggris, kata Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja, visi pendidikan mereka sudah 100 tahun tidak bergeser. Seabad! Bayangkan, melewati berbagai perdana menteri, berbagai partai berkuasa, berbagai gejolak zaman, fondasi tujuan pendidikan mereka tetap sama. Kokoh. Tak tergoyahkan.

Dalam diskusi kami, Ami Kadir memaparkan tiga orientasi pendidikan di sana. Tiga pilar. Visi yang sudah seabad tidak diutak-atik, tidak diobrak-abrik hanya karena selera penguasa baru.

Pertama, mendidik anak agar menjadi responsible citizen. Warga negara yang bertanggung jawab. Bukan sekadar warga negara yang tahu haknya, tapi yang paham dan mau menjalankan kewajibannya. Paham aturan main. Punya etika publik.

Kedua, menjadikan mereka good learner. Pembelajar yang baik. Bukan sekadar siswa yang pintar menghafal materi ujian. Tapi individu yang punya kemauan dan kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat. Yang punya rasa ingin tahu. Yang bisa mencari sumber ilmu. Yang bisa berpikir kritis. Yang adaptif terhadap perubahan.

Ketiga, contributor to civilization. Kontributor untuk peradaban. Lulusan pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi ‘konsumen’ peradaban, tapi ikut aktif membangunnya. Memberi sumbangsih positif bagi masyarakat dan dunia. Sekecil apapun perannya.

Tiga pilar kokoh. Sederhana kedengarannya, tapi mendalam maknanya. Visi ini fokus pada output karakter dan kemampuan jangka panjang, bukan sekadar input teknis kurikulum yang bisa berubah-ubah.

Fokus pada pilar kedua—menjadi pembelajar yang baik—ini krusial luar biasa. Mengapa? Sebab, guru tidak bisa mencetak pembelajar jika dirinya sendiri berhenti belajar. Mustahil! Bagaimana mungkin guru yang ilmunya sudah usang bisa menyalakan api keingintahuan pada muridnya? “Guru yang berhenti belajar, tidak layak mengajar,” kata Ami Kadir, mengutip sebuah adagium.

Realitas kita? Justru berbanding terbalik 180 derajat. Banyak pengajar kita, baik dosen maupun guru, terjebak dalam rutinitas yang mematikan jiwa pembelajar.

Sibuk mengajar di banyak tempat. Kejar setoran jam mengajar demi sertifikasi atau sekadar menyambung hidup. Pagi di kampus A, siang di sekolah B, malam mungkin masih privat di rumah C. Waktu untuk riset, membaca jurnal terbaru, mengikuti perkembangan ilmu, meng-upgrade diri, habis terkuras untuk mengejar jam tayang. Untuk menambal dapur.

Ami Kadir pernah mengalaminya sendiri saat masih aktif menjadi dosen. Buku-buku teks yang ia pakai mengajar harus dibeli dari toko buku impor di Bandung. Harganya mahal.

Itu pun, ia sadar betul, buku itu sebenarnya sudah kuno. Usang. Ilmu 10 tahun lalu. Ilmu yang paling gres, yang paling relevan, adanya di jurnal-jurnal ilmiah internasional. Yang aksesnya terkadang mahal, bahasanya Inggris, dan butuh waktu serta energi ekstra untuk mempelajarinya.

Pertanyaannya: Kapan sempat belajar jika jadwal mengajar sudah penuh dari pagi sampai malam? Bagaimana mau jadi good learner jika sistem tidak mendukung?

Kita tidak punya jangkar visi sekuat Inggris. Orientasi pendidikan kita terlalu mudah berubah-ubah sesuai selera penguasa. Sesuai tren sesaat. Sesuai tekanan politik. “Di sini ini main-main,” keluh Ami Kadir. “Ganti menteri, ganti lagi (kebijakan). Ya apa ini?”. Tidak ada konsistensi. Tidak ada arah jangka panjang yang jelas.

Akibatnya? Mutu kita terus merosot. Kita sibuk di hilir. Ribut soal teknis administrasi, format RPP, model kurikulum terbaru (yang mungkin beberapa tahun lagi diganti). Tapi kita gagal menetapkan visi fundamental di hulu. Apa sebenarnya tujuan akhir pendidikan kita? Mau mencetak manusia seperti apa?

Inggris fokus pada output karakter: warga negara bertanggung jawab, pembelajar seumur hidup, dan kontributor peradaban. Kita? Sibuk pada input teknis yang gonta-ganti. Gagal fokus. Sudah 100 tahun mereka konsisten dengan visinya, kita masih seperti mencari-cari bentuk. Terus bereksperimen. Terus membongkar pasang. Kapan mau sampai?

Share