Serial Cetakan Rusak: Singapura Seperti Kita
oleh: Mohammad Affan Basyaib
Kesejahteraan hilang, sistem pun dibuang. Ironisnya, kini jadi rujukan.
Singapura Seperti Kita
Negara kuat berawal dari guru. Bukan dosen (lecturer), tapi guru (teacher). “Negara itu kuat kalau warganya berkualitas. Warga berkualitas kalau gurunya berkualitas,” tegas Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja—Ami Kadir. Logika sederhana ini, menurutnya, adalah kunci yang sering kita lupakan, atau sengaja kita abaikan.
Ironisnya? Sistem terbaik untuk mewujudkan logika itu justru pernah kita miliki. Lalu kita buang. Kita anggap kuno. Tidak modern.
Lee Kuan Yew, arsitek Singapura modern, tidak berpikir begitu. Ia tahu persis resepnya. Di tengah keterbatasan sumber daya alam, ia sadar bahwa satu-satunya modal Singapura adalah manusia. Ia ingin warga berkualitas. Warga yang bisa bersaing. Kuncinya? Pendidikan. Dan jantung pendidikan? Guru. Maka, ia membenahi habis-habisan sistem gurunya.
Lihatlah Singapura sekarang. Mereka hanya mau merekrut calon guru dari kelompok elite: 30% lulusan SMA terbaik. Bukan sembarang orang bisa jadi guru. Mereka dididik secara khusus, terpusat, di National Institute of Education (NIE). Biayanya? Ditanggung penuh oleh negara. Plus dapat tunjangan. Lulus? Gajinya dijamin tinggi. Ada ikatan dinas. Menjadi guru di sana adalah sebuah kebanggaan, sebuah pilihan karier yang prestisius. Bukan pilihan sisa.
Sistem canggih itu, kata Ami Kadir, sangat mirip. Amat sangat mirip dengan yang pernah kita miliki di masa lalu. “Singapura itu (sistemnya) seperti Indonesia yang dulu,” ujarnya. Kita pernah punya ‘resep’ itu.
Namanya Sekolah Guru Atas (SGA). Itu adalah kawah candradimuka pencetak guru SD berkualitas. Sistemnya tidak main-main. Asrama (boarding) penuh selama empat tahun. Gratis. Ditanggung penuh oleh negara. Yang masuk bukan sembarang orang, tapi bibit-bibit pilihan dari seluruh penjuru negeri. Seleksinya ketat. Lulusannya disiapkan khusus untuk tugas maha berat yaitu membangun fondasi watak dan keilmuan di level dasar (SD). Di masa krusial 6 tahun itu. SGA adalah “mesin” pencetak guru berkualitas.
Bahkan, bukan hanya untuk SD. Untuk guru SMP dan SMA pun, dulu ada sistem khusus yang tak kalah serius. “Ada di Jogja itu,” kenang Ami Kadir. Sistem S1, tapi berasrama penuh selama 10 semester. Lima tahun digembleng di asrama untuk jadi guru SMP/SMA. Totalitas!
Ketika sistem itu berjalan, hasilnya terasa nyata. Ami Kadir membandingkan kualitas kabinet era Orde Baru. Era ketika produk-produk sistem pendidikan lama mulai mengisi pos-pos penting. “Jaman Pak Harto, ada Adam Malik, Ali Alatas. Walaupun tidak S3, tapi kualitasnya…” katanya, menyiratkan level kompetensi dan nalar yang tinggi. Mereka adalah produk dari sistem pendidikan yang solid, yang dimulai dari guru-guru berkualitas di level dasar.
Kini? Sistem emas itu dibongkar habis. SGA dihapus. Diganti SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang tidak lagi berasrama. Lalu akhirnya dilebur ke universitas, jadi fakultas keguruan biasa. Sistem S1 berasrama untuk guru SMP/SMA? Hilang tak berbekas. Mesin pencetak guru berkualitas itu dimatikan. Mungkin dianggap pemborosan. Hasilnya? “Cetakan rusak,” kata Ami Kadir di awal diskusi kami.
Ami Kadir memberi peringatan keras. Sangat keras. “Selama anak muda (yang berkualitas) enggan jadi guru, apakah guru TK, apa guru SD, negara ini dalam bahaya”.
Bahaya apa? Bahaya kehilangan daya saing. Bahaya krisis karakter. Bahaya kehabisan stok pemimpin berkualitas. Mengapa? Karena yang berkualitas—yang cerdas, yang punya nalar—tidak mau lagi mengajar. “Insinyur? Gak mau jadi guru. Dokter? Gak mau”. Profesi guru kehilangan daya tariknya, baik dari sisi kesejahteraan maupun gengsi sosial. Mereka lebih memilih jadi ASN atau jualan pecel S3.
Singapura sudah membuktikan. Resep yang mirip SGA itu manjur luar biasa. Pendidikan mereka jadi kelas dunia. Ironisnya? Mereka memakai resep yang seperti kita temukan pertama kali, lalu dengan enteng kita lupakan. Kita buang ke tong sampah sejarah.