Serial Cetakan Rusak: Panggilan Jiwa (Bag.3)

Serial Cetakan Rusak: Panggilan Jiwa

Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Singapura serius soal guru. Mereka bayar mahal. Mereka pilih yang terbaik. Kita? Oh, kita punya panggilan jiwa. Cukupkah?


Panggilan Jiwa

Orang tidak cerdas, tidak bisa dicerdaskan. Orang tidak pintar, bisa dipintarkan.”

Kalimat Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja—Ami Kadir—ini penting. Mungkin paling penting. Kita sering menyamaratakan. Pintar ya cerdas. Cerdas ya pintar. Padahal, beda. Jauh.

Pintar itu soal isi kepala. Soal materi. Hafalan. Teknis. Anda belajar keras, Anda bisa pintar. Bisa dikejar.

Cerdas? Itu soal cara kepala bekerja. Soal nalar. Kreativitas. Kecepatan menangkap masalah. Analisis. Itu potensi. Hardware-nya. Harus ditemukan, lalu diasah. Tidak bisa Anda suntikkan kecerdasan ke orang yang memang tidak cerdas.

Lalu, siapa butuh apa? Di sinilah kita sering salah alamat. Kata Ami Kadir, dosen itu cukup pintar saja. “Gak perlu cerdas,” tegasnya. Tugasnya mentransfer ilmu spesifik. Kalau dia cerdas, bagus. Tapi syarat utamanya ya kuasai materi!

Yang justru wajib ain cerdas? Guru. Terutama guru SD. Lho, kok bisa? Materinya kan gampang? Justru itu! Tugas guru SD bukan ngajar kalkulus. Tugasnya “membangun watak“. Membentuk fondasi di usia emas. Mengajar anak “kemauan dan kemampuan belajar mandiri“. Itu butuh kreativitas tingkat dewa. Butuh nalar lincah. Butuh kecerdasan. Butuh effort luar biasa.

Masalahnya? Yang cerdas-cerdas itu lari. Ga mau jadi guru. Apalagi guru SD. Kalah gengsi. Kalah gaji.

Ami Kadir pernah buktikan sendiri. Dulu, ia cari guru bagus untuk sekolahnya. Mencoba merekrut lulusan terbaik dari IKIP. Pabriknya guru. Hasilnya? Sulitnya minta ampun. Yang terbaik dari IKIP pun sering punya cita-cita lain.

“Ternyata,” katanya, “Yang pintar-pintar itu jadi guru karena panggilan jiwa. Sangat jarang.”

Ini dia penyakitnya. Kita terlalu mengandalkan panggilan jiwa. Sesuatu yang personal. Yang tidak terukur. Yang tidak bisa diproduksi massal.

Bagi kebanyakan orang, jadi guru itu pilihan sisa. Pilihan terakhir. Setelah gagal masuk kedokteran, teknik, atau fakultas mentereng lainnya. Inputnya sudah beda kelas. Jauh dari era Sekolah Guru Atas (SGA) yang legendaris itu.

Di sinilah krisisnya. ‘Cetakan‘ generasi kita retak di hulunya. Di pintu masuk profesi guru. Kita serahkan tugas maha berat membangun watak bangsa ke tangan mereka yang mungkin masuk karena terpaksa. Atau karena kebetulan punya panggilan jiwa.

Memang, panggilan jiwa itu hebat. Awal 2000-an, kata Ami Kadir, ada gelombang semangat di sekolah-sekolah idealis. Anak-anak muda pintar, semangat, terjun jadi guru. Rela dibayar minim demi pengabdian.

Tapi, idealisme saja tidak bisa dimakan. Panggilan jiwa bisa lapar juga. “Setelah tujuh tahun, beda lagi,” kata Ami Kadir. Realitas datang. Menikah. Punya anak. Butuh biaya hidup. Semangat mulai kendor. Apalagi kalau gaji masih segitu-gitu saja. Bisa pindah haluan.

Maka, berharap pada ‘panggilan jiwa’ saja tidak akan cukup. Itu namanya untung-untungan. Sistemnya yang harus dirombak total.

Perlu upaya sistematis. Seperti SGA dulu. Jaring lulusan SMA terbaik se-Indonesia. Kasih beasiswa penuh. Asrama gratis. Pendidikan berkualitas. Jaminan kesejahteraan tinggi setelah lulus.

Tujuannya satu: agar jadi guru bukan lagi pilihan sisa. Tapi pilihan utama yang membanggakan bagi orang-orang cerdas. Agar ‘cetakan’ bangsa ini dipegang oleh ‘tukang cetak’ terbaik. Yang cerdas. Yang berkarakter. Sebab, guru yang “sekadar pintar” cuma bisa ngajar. Tapi guru yang “cerdas” bisa mengubah watak. Dan watak itulah inti pendidikan. Fondasi segalanya. Tanpa itu, ‘panggilan jiwa’ hanya jadi oase di tengah gurun. Indah, tapi tak menyelesaikan masalah kekeringan.

Share