Seimbangkan Keuangan Yayasan

Seimbangkan Keuangan Yayasan

oleh: Mohammad Affan Basyaib

(Direktur ABAT Academy)

Pemandangan klasik di banyak yayasan sosial atau pendidikan. Semangat pengurusnya membara. Programnya mulia, menyentuh kebutuhan umat. Kegiatannya padat merayap. Tapi… giliran urusan dana, sering megap-megap. Gali lubang tutup lubang jadi jurus andalan. Honor guru kadang telat. Tagihan listrik menunggak. Operasional tersendat. Kenapa penyakit ini begitu umum?

Ada satu resep manajemen yang sering dilupakan: Keseimbangan! Konsepnya dikenal sebagai Balance Scorecard. Istilahnya mungkin terdengar rumit, tapi intinya sederhana: organisasi, termasuk yayasan, harus seimbang. Seimbang antara aktivitas non-keuangan (merancang dan menjalankan program, melayani umat) dengan aktivitas keuangan (mencari sumber dana dan mengelolanya).

Jangan sampai fokusnya hanya pada bagaimana menghabiskan uang untuk program, tapi lupa atau abai pada bagaimana cara mendapatkannya. Logikanya sederhana saja. Yayasan, sehebat apapun programnya, butuh bahan bakar. Butuh dana operasional. Listrik, air, internet, ATK, semua perlu dibayar. Staf atau guru (jika ada) perlu digaji. Setiap kegiatan pasti butuh biaya. Kalau keran pemasukan mampet atau hanya menetes, sementara keran pengeluaran mengalir deras, ya pasti tekor ujung-ujungnya.

Masalahnya, banyak yayasan terjebak di sini. Para pengurusnya mungkin adalah orang-orang idealis yang tulus, jago merancang program sosial, piawai menggerakkan relawan. Tapi begitu bicara soal mencari duit untuk membiayai operasional, seringkali dianggap urusan nanti, bukan bidang saya, atau bahkan kurang etis.

Akhirnya? Nasib yayasan bergantung pada kedermawanan donatur musiman yang tak menentu. Atau berharap pada proposal bantuan yang entah kapan cairnya. Pilihan lain yang sering terjadi yaitu mengandalkan iuran pribadi pengurus yang tentu saja kemampuannya terbatas.

Padahal, idealnya, di dalam struktur yayasan itu harus ada mesin khusus yang bertugas mencari dana. Ada orang atau divisi yang fokus utamanya memang berpikir keras terkait bagaimana agar dapur yayasan ini bisa terus menyala secara mandiri? Bagaimana agar ada sumber pemasukan yang lebih stabil dan terencana?

Bentuk mesin uang ini bisa bermacam-macam. Bisa berupa unit usaha mandiri yang keuntungannya disubsidikan ke program sosial (misalnya koperasi, kantin, toko, jasa percetakan, penyewaan aset). Bisa berupa program fundraising (penggalangan dana) yang dirancang secara profesional dan berkelanjutan, bukan sekadar sporadis saat butuh. Bisa juga membangun kemitraan strategis jangka panjang dengan perusahaan melalui program CSR. Atau mengoptimalkan pengelolaan aset wakaf produktif. Banyak jalan menuju kemandirian finansial, asal mau dipikirkan dan dieksekusi dengan serius.

Ini bukan soal menjadi ‘matre’ atau komersial. Ini soal keberlanjutan (sustainability). Program sosial yang mulia sekalipun akan sia-sia jika harus berhenti di tengah jalan karena kehabisan dana. Bukankah lebih baik programnya mungkin tidak semegah itu di awal, tapi bisa berjalan terus secara konsisten, memberi manfaat jangka panjang bagi umat?

Pesannya disini jelas. Seimbangkan! Jangan hanya pintar membelanjakan dana amanah, tapi juga harus pintar dan proaktif menghasilkannya. Dua kaki ini – program dan pendanaan – harus sama-sama kuat melangkah. Kalau hanya satu kaki yang diandalkan, jalannya pasti pincang. Risiko jatuh dan berhenti pun jadi lebih besar.

Mungkin ini saatnya yayasan-yayasan di negeri ini mulai lebih serius memikirkan dan membangun kaki finansial mereka. Menciptakan mesin pencari dana internal yang handal. Biar tidak lagi terlalu bergantung pada ‘infus’ dari luar yang tak pasti. Biar lebih mandiri. Biar program-program mulianya bisa terus berjalan lancar, menebar manfaat lebih luas dan lebih lama. Sulit? Tentu saja. Tapi jelas bukan hal yang mustahil.

Share