Riset Berdampak, Keberanian Pengambilan Keputusan


Oleh Affan Basyaib



(Sebuah diskusi mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan dengan Direktur Kantor Manajemen Inisiatif King Saud University)

Peringkat Universitas King Saud (KSU) di daftar bergengsi Shanghai Ranking melorot. Dari posisi manis di 90 besar dunia, kini terlempar ke grup 101-150.

Banyak yang mungkin panik. Cemas. Tapi tidak bagi Dr. Saari As-Shani.

Bagi sang Direktur Kantor Manajemen Inisiatif (PIM) ini, angka itu hanyalah alarm. Tanda bahwa Manajemen KSU perlu disetel ulang.

Kalau perlu, bongkar sampai ke fondasinya.

Beberapa pekan lalu, di hadapan para mahasiswa doktoral, Dr. Saari blak-blakan membuka “dapur” universitas. Tidak ada yang ditutupi. Semuanya disajikan apa adanya. Pahit, tapi perlu.

Menurutnya, zaman inisiatif “suka-suka” sudah lewat. Dulu, satu fakultas punya program A, direktorat lain punya program B, pusat studi lain punya program C. Semuanya bagus. Tapi berjalan sendiri-sendiri. Seperti lidi, mudah dipatahkan.

“Kita harus mengubahnya dari kerja individu menjadi kerja kelembagaan,” kata Dr. Saari.

Contohnya? Program keberlanjutan. Tadinya dipegang sana-sini. Sekarang dilebur jadi satu pusat komando. Jelas siapa penanggung jawabnya. Jelas targetnya.

Dari kerja “rombongan” menjadi sebuah barisan kekuatan yang solid.

Tantangannya? Birokrasi. Dr. Saari menyebutnya “tata kelola (governance)”.

Ibarat setir mobil. Kalau terlalu longgar, bisa oleng tak tentu arah. Tapi kalau terlalu kencang, terlalu banyak izin dan persetujuan, mobil malah tidak bisa jalan. Macet.

“Kalau satu inisiatif harus menunggu sepuluh tandatangan, itu bukan tata kelola, tapi tata kelola yang bertele-tele,” ujarnya memberi contoh.

Kita butuh rem, tapi kita juga butuh gas. Tata kelola harus seimbang, cepat, dan feasible.

“Kita harus cari keseimbangannya,” tegasnya.

Lalu, isu yang lebih sensitif: sumber daya manusia. Transformasi, suka atau tidak, akan memakan korban. Akan ada dosen, staf, atau karyawan yang terdampak. Bisa lewat pensiun dini, bisa juga tidak diperpanjang kontraknya.

Kejam? Mungkin. Tapi Dr. Saari memberi syarat: semua harus berdasarkan evaluasi kinerja tahunan yang adil dan transparan. Yang produktif didukung, yang tidak, harus siap minggir.

Tantangan terberat berikutnya adalah uang. Tepatnya, pergeseran paradigma pendanaan.

Zaman “bakar uang” untuk inisiatif sudah berakhir. Kini, setiap proposal harus berbiaya rendah, kalau bisa nol.

Solusinya? Gandeng swasta. Cari sponsor. Jangan hanya menunggu kucuran dana dari pemerintah yang kadang birokrasinya lebih lambat dari lembaga nirlaba.

Di tengah semua tantangan itu, muncullah senjata baru: Kecerdasan Buatan (AI). Dr. Saari mengakui, alat seperti ChatGPT dan Gemini adalah anugerah. Bisa menghemat waktu, memoles tulisan, dan mempercepat riset.

Tapi, ada masalah. “AI ini masih ‘kebarat-baratan’,” katanya. Untuk Bahasa Inggris, kemampuannya luar biasa. Tapi untuk Bahasa Arab, masih tertinggal. Referensi digital terbatas, banyak yang terkunci hak cipta. Ini pekerjaan rumah besar.

Lantas, untuk apa semua ini? Jawabannya bukan cuma demi peringkat.

Dr. Saari menantang para calon doktor di hadapannya. “Riset Anda jangan hanya berakhir di perpustakaan,” pesannya. Riset harus punya added value, harus bisa menyelesaikan masalah nyata.

Mahasiswa Manajemen Pendidikan Tinggi, misalnya, harus bisa memberi solusi atas carut-marut di sektor pendidikan. Meneliti bagaimana cara memperbaiki tata kelola dan efisiensi di dalamnya.

Pada akhirnya, kata Dr. Saari, kuncinya adalah visi “win-win”. Inisiatif harus menguntungkan semua pihak: pimpinan, universitas, mahasiswa, dan masyarakat luas.

“Harus ada keberanian dalam mengambil keputusan,” pungkasnya.

Tanpa keberanian itu, transformasi hanya akan jadi slogan indah di atas kertas.

KSU sedang diuji. Dan Dr. Saari, tampaknya, sudah memegang resep obatnya. Tinggal menunggu, siapa yang berani menelannya.

Maka, pesan utama Dr. Saari untuk para calon doktor itu sederhana: Keluar!

Keluar dari kampus, masuk ke pasar kerja. Keluar dari dalam negeri, buka cabang di luar. Membuka cabang di luar negeri bukan cuma soal gengsi. Itu adalah promosi gratis untuk soft power negara.

Karena pada intinya, riset harus berdampak. Jangan pernah puas dengan gelar doktor. Puaslah jika disertasi Anda bisa menyelesaikan masalah di luar sana. Itulah riset yang bermanfaat dan barokah. Dan semua itu membutuhkan satu hal: keberanian mengambil keputusan.

Share