Paspor AI dari Riyadh
Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Hall kampus saya di King Saud University (KSU), Riyadh, mendadak senyap.
Namanya Ruth Porat. Jabatannya mentereng: Presiden sekaligus Chief Investment Officer (CIO) Alphabet dan Google.
Bukan orang sembarangan.
Apa yang baru saja ia umumkan bukan sekadar ‘kuliah tamu’. Ini ‘kuliah investasi’.
Google.org akan menghibahkan $500.000. Setara 8 miliar rupiah lebih.
Untuk apa? Pelatihan cybersecurity khusus di kampus kami, KSU.
Saya, Affan Basyaib, duduk di antara ratusan hadirin. Menyaksikan langsung manuver raksasa teknologi itu.
Hari ini, Ahad 26 Oktober 2025, Google memang sedang ‘menginvasi’ kampus kami. Temanya jelas: “Empowering Future AI Innovators with Google.”
Ruth Porat tidak datang dengan tangan kosong.
Hibah setengah juta dolar itu ternyata hanya pemanis. Pengumuman utamanya lebih ‘gila’.
“Seluruh mahasiswa KSU!” kata Ruth. “Seluruh fakultas dan staf!”
“Akan mendapatkan akses Gemini AI Pro. Gratis.”
Aula bergemuruh.
Ini bukan main-main. Google ingin kami, para mahasiswa, ‘lincah’ AI sejak di bangku kuliah.
Ruth membeberkan alasannya. Saudi adalah pasar penting. Sangat penting.
Google, katanya, sudah menyuntik ekonomi lokal $8 miliar dalam dua tahun terakhir. Gemini sudah fasih 16 dialek Arab, termasuk dialek Saudi.
Google Cloud mereka di Dammam, yang dibuka 2023, diproyeksi membuka 150.000 lapangan kerja.
Mereka sudah melatih 600.000 orang di wilayah ini.
Dan sekarang, mereka masuk lebih dalam: ke kurikulum.
Google menggandeng MCIT (Kementerian Komunikasi dan IT Saudi) untuk membuat kurikulum AI nasional. Sasarannya: guru-guru sekolah negeri di Saudi.
Tidak berhenti di situ. “Gemini Academy” akan diluncurkan pada 2028. Targetnya: meng-upskill 25.000 guru lagi.
Rektor KSU, Prof. Ali M. Masmali, yang duduk di sebelah Ruth Porat, tampak semringah.
Tentu saja. Visi KSU adalah menjadi 10 besar universitas top dunia. AI adalah pilar utamanya.
Mendapat ‘durian runtuh’ akses Gemini Pro gratis se-kampus, plus hibah $500.000, siapa tidak senang.
Tapi sesi yang tak kalah seru adalah Q&A.

Seorang mahasiswi, Sarah, bertanya. “Apa tantangan terberat dalam karier Anda? Dan apa pelajarannya?”
Ruth terdiam sejenak. Jawabannya ada dua. Profesional dan personal.
Yang profesional “Tujuh minggu setelah saya mulai bekerja,” katanya, “pasar saham ambruk parah.”
Pelajaran yang ia pegang datang dari pendiri Google, Sergey Brin: “Pasar akan melakukan apa maunya pasar… Fokus saja pada apa yang Anda ciptakan.”
Lalu jawaban personal. Ini yang membuat aula hening lagi.
“Saya pernah kena kanker. Dua kali. Saat anak-anak saya masih kecil,” ujarnya pelan.
“Pelajarannya?”
“Anda tidak pernah tahu apa yang akan menghadang. Jangan menunggu untuk hidup.”
“Jalani hidup Anda sepenuhnya. Hari ini.”
Saya, sebagai mahasiswa manajemen pendidikan, merenung.
Google tidak hanya menjual produk. Mereka sedang membangun ekosistem. Dari hulu (kurikulum guru) hingga hilir (mahasiswa yang siap kerja dengan alat mereka).
Di akhir acara, sang MC mengingatkan kami pada dua kutipan penting dari Ruth Porat.
Pertama, “Pendidikan adalah paspor untuk kehidupan.”
Kedua, “Gerbang menuju inovasi adalah dengan berkata, ‘Kenapa tidak?'”
Dan hari ini, di Riyadh, Google baru saja meng-upgrade paspor kami semua. Ke kelas AI.