Menegur Tanpa Luka
Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)
Sebelum teka-teki Lantai Dasar itu dimulai, ada satu momen hangat. Momen taaruf.
Kami berenam memperkenalkan diri. Nama, asal, dan jurusan. Biasa. Formalitas tamu kepada tuan rumah.
Namun, suasana berubah ketika salah satu dari kami menyebutkan jurusannya: Manajemen Pendidikan.
Syaikh Dr. Ashim Al-Luhaidan tidak sekadar mengangguk. Beliau antusias. Sebagai pendidik senior, radar beliau menyala. Ada koneksi frekuensi.
”Kalian orang pendidikan?” tanya beliau. “Sudah baca kitab ini?”
Kami saling pandang. Belum.
Beliau kemudian menyebut satu judul. Nadanya bukan sekadar menyarankan. Tapi seakan-akan mewajibkan—secara halus.
Judulnya: Al-Manhaj An-Nabawi fi Taqwim Al-Akhta’ (المنهج النبوي في تقويم الأخطاء).
Penulisnya: Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Yusuf Asy-Syatti’.
”Ini pegangan wajib,” kata Syaikh Ashim. “Guru, dosen, orang tua, harus baca ini sebelum menegur kesalahan muridnya.”
Pulang dari sana, saya langsung berburu.
Target utama adalah toko kitab legendaris di Riyadh: Dar At-Tadmuriyah (دار التدمرية).
Biasanya, apa saja ada di sana.
Saya susuri rak demi rak. Hasilnya nihil. Saya tidak berjumpa fisik kitab itu. Mungkin habis. Atau memang langka. Saya tanya ke penjaga toko. Dia cek. Ternyata beneran habis.
Tapi rasa penasaran sudah di ubun-ubun. Untung ada teknologi. Saya akhirnya menemukan versi E-Book-nya.
Saat file PDF itu terbuka, saya kaget.
Ini bukan buku saku. Ini bukan buku motivasi tipis yang sekali duduk habis. Ini adalah risalah Tesis Magister (S2) sang penulis. Tebalnya bukan main: 656 halaman. Diterbitkan oleh sebuah penerbit di Kuwait.
Isinya? Daging semua. Riset akademis yang mendalam, tapi bahasanya menyentuh hati.
Syaikh Asy-Syatti’ membedah tuntas bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi kesalahan manusia.
Yang membuat kitab ini istimewa adalah proses penulisannya. Syaikh Ashim bercerita bahwa penulis tidak asal comot teori.
Beliau menggunakan metode Istiqra’ (penelusuran menyeluruh).
Penulis menyusuri satu per satu hadits Nabi. Mencari setiap momen di mana Nabi menegur kesalahan. Ia kumpulkan semuanya, lalu ia hitung. Ia cek satu per satu. Hasilnya mencengangkan.
Dari penelusuran hadits-hadits itu, Syaikh Asy-Syatti’ menemukan dan merumuskan bahwa Nabi memiliki 37 hingga 38 metode berbeda dalam meluruskan kesalahan.
Bayangkan. Tiga puluh delapan cara!
Kita mungkin hanya punya satu cara andalan: Memarahi. Atau paling banter dua: Memarahi dan menyindir. Tapi Nabi punya stok puluhan cara yang berbeda-beda, disesuaikan dengan siapa yang berbuat salah, apa kesalahannya, dan bagaimana kondisinya.
Poin pertamanya mendasar: Salah itu kodrat.
Manusia tempatnya salah. Nabi bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
”Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat.”
Jadi, kalau ada murid salah, guru tidak boleh kaget. Tidak boleh histeris. Itu normal. Itu manusiawi. Guru yang baik menerima fakta bahwa muridnya bukan malaikat.
Lalu, bagaimana cara Nabi menegur?
Di sinilah seninya. Dalam 600 halaman lebih itu, penulis membedah puluhan metode Nabi. Ternyata, memarahi itu ada di urutan paling akhir.
Ada metode Taghaful. Pura-pura tidak tahu.
Kadang, seorang guru melihat muridnya salah. Tapi jika ditegur saat itu juga, murid akan malu. Mentalnya jatuh. Maka Nabi kadang membiarkan. Bukan setuju, tapi menunda waktu yang tepat. Atau menjaga kehormatan si pelaku.
Ada metode Tanpa Nama.
Ini teknik high-class. Nabi sering naik mimbar lalu berkata:
مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا
“Apa gerangan keadaan kaum yang mengatakan begini dan begitu…”
Nabi mengkritik perilakunya. Bukan orangnya. Si pelaku sadar, merasa tersindir, tapi mukanya tidak tercoreng di depan umum. Dia bisa memperbaiki diri tanpa kehilangan harga diri.
Ada metode Dialog Logika.
Ingat pemuda yang datang kepada Nabi minta izin berzina? Nabi tidak menamparnya. Nabi mengajaknya berpikir logis.
Nabi bertanya:
أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟
”Apakah engkau menyukainya (zina itu) terjadi pada ibumu?”
Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.”
Nabi bersabda lagi:
وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ
”Begitu juga orang lain, mereka tidak menyukainya terjadi pada ibu-ibu mereka.”
Logikanya disentuh. Hatinya disentuh. Kesalahannya diluruskan tanpa ada bentakan.
Membaca rekomendasi Syaikh Ashim ini menyadarkan kita.
Pendidikan kita seringkali fokus pada hukuman. Pokoknya kalau salah, hukum. Kalau melanggar, poin dikurangi.
Padahal, tujuan menegur adalah Taqwim (meluruskan). Bukan Taqri’ (mencela).
Kalau tujuannya meluruskan, caranya harus lurus. Kalau tujuannya mengobati, jangan berikan racun.
Tesis setebal bantal ini mengajarkan kita satu hal besar: Menjadi guru bukan hanya soal transfer ilmu. Tapi soal transfer rasa.
Syaikh Ashim benar. Kitab ini berbahaya kalau tidak dibaca. Kita bisa jadi guru yang pembunuh karakter tanpa sadar.
Terima kasih, Syaikh. Rekomendasi ini berat di timbangan, tapi sangat mahal harganya.
Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya
Halim Perdanakusuma International Airport
7 Rajab 1447