Mahalnya Sebuah Jawaban

Mahalnya Sebuah Jawaban

​Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

​Malam itu saya belajar dua hal sekaligus.

​Pertama, belajar tentang hakikat Kejujuran sebagai pondasi agama.

Kedua, belajar tentang cara mengajar yang memikat.

​Sebagai seorang mahasiswa, insting akademisku langsung bereaksi. Syaikh Dr. Ashim Al-Luhaidan tidak sedang berceramah. Tanpa dirasa beliau sedang mempraktikkan teori pendidikan modern. Tanpa papan tulis. Tanpa proyektor.

​Metode beliau bisa diringkas dalam satu kalimat: Ilmu itu dijual mahal, bukan sekedar diobral murah.

​Biasanya, penceramah akan langsung memberikan poinnya. “Hadirin, jujur itu penting. Dalilnya ini. Manfaatnya ini. Sekian.”
​Selesai. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tidak membekas.

​Tapi Syaikh Ashim berbeda. Beliau memakai teknik Suspense (Ketegangan). Membuat Murid Lapar Dulu.

​Beliau tidak langsung memberi makanan. Beliau membuat kami lapar dulu.

​Caranya? Dengan teka-teki.
“Ada satu ibadah yang menjamin 20 ibadah lain. Apa itu?”

​Beliau membiarkan kami menebak. Salah. Tebak lagi. Salah lagi. Beliau menolak memberi jawaban instan. Bahkan beliau mengancam: “Kalau tidak ketemu jawabannya, pulang saja. Besok datang lagi.”

​Ini psikologi dasar. Manusia tidak menghargai apa yang didapat dengan mudah. Tapi jika mereka dibuat penasaran, dibuat tersiksa oleh rasa ingin tahu, maka ketika jawaban itu muncul, ia akan menancap kuat di memori.

​Dalam teori pendidikan modern, inilah yang disebut Inquiry-Based Learning. Syaikh sedang menciptakan kondisi Cognitive Disequilibrium. Otak murid dibuat tidak seimbang karena bingung. Rasa bingung itulah bensin untuk belajar.

​Beliau mencontohkan kisah penjual roti Tamees. Syaikh pernah bercanda kepada si penjual dengan pertanyaan teologis yang aneh: “Kalau Ramadhan dan Musim Haji terjadi bersamaan, kita puasa atau haji?”
​Si penjual roti sampai berteriak: “Stop! Jangan pergi! Saya tidak bisa tidur kalau tidak tahu jawabannya.”

​Itulah target Syaikh kepada kami. Beliau ingin kami tidak bisa tidur memikirkan ilmu. Beliau ingin otak kami bekerja keras.

Analogi Lantai Dasar. ​Metode kedua beliau adalah Visualisasi Abstrak.

​Materi malam itu berat: Hubungan antara Tauhid, Akhlaq, dan Fiqih. Kalau dijelaskan pakai bahasa akademis, kami bisa tidur.

​Tapi Syaikh membungkusnya dengan analogi Gedung 20 Lantai.
“Mungkinkah masuk lantai 3 tanpa lewat lantai dasar?” tanya beliau.
“Mustahil,” jawab kami.

​Dengan analogi sederhana itu, konsep rumit tentang pondasi akidah menjadi sangat renyah. Lantai Dasar itu adalah Kejujuran. Kalau lantai dasar keropos, jangan harap shalat (lantai atas) bisa khusyuk.

​Beliau mengubah konsep langit menjadi benda bumi. Konkret.

​Para ahli kurikulum menyebut pendekatan ini sebagai Contextual Teaching and Learning (CTL). Syaikh juga melakukan teknik Scaffolding

Beliau membangun jembatan kognitif: dari hal sederhana (gedung) menuju hal rumit (akidah). Sehingga orang awam pun langsung paham.

Metodenya ​Interaktif, Bukan Satu Arah.

​Syaikh tidak memegang mikrofon sendirian. Beliau melempar bola.
“Mana yang jurusan Quran?”
“Mana yang jurusan Aqidah?”
“Coba kamu jawab.”

​Beliau melibatkan audiens.
Beliau memvalidasi jawaban yang salah dengan elegan (“Kamu sudah dekat,” “Hampir benar”). Ini membuat suasana kelas hidup.

Tidak ada yang berani mengantuk karena takut ditunjuk. Tapi juga tidak ada yang takut menjawab karena Syaikh menghargai setiap usaha.

​Ini bukan sekadar tanya jawab. Dalam dunia akademis, ini adalah penerapan Student-Centered Learning (SCL) yang dipadu dengan strategi Guided Discovery Learning (Penemuan Terbimbing).

​Dalam Guided Discovery, guru tidak memberi jawaban di piring perak. Guru memberikan petunjuk (clues) dan pertanyaan pancingan untuk memancing murid berpikir kritis.

​Malam itu, Syaikh Ashim menampar kesadaran saya sebagai pendidik.

​Kita seringkali terlalu murah hati dalam mengajar. Kita suapi murid terus menerus sampai mereka muntah. Kita obral materi tanpa membangun rasa ingin tahu.

​Padahal, ilmu itu harus diburu. Guru tugasnya bukan memberi daging buruan yang sudah mati. Guru tugasnya memberikan busur dan anak panah, lalu menunjukkan arah hutan.

​Syaikh Ashim telah menunjukkan arah hutan itu. Dan malam itu, kami berenam pulang dengan rasa kenyang yang luar biasa.

​Ilmu itu mahal. Dan Syaikh Ashim adalah pedagang yang ulung.

Dalam Perjalanan ke Kota Batu
9 Rajab 1447H

Share