Kuliah Peradaban Ayahanda Prof. Haedar Nashir Pada Musycabis IV PCIM Arab Saudi

Kuliah Peradaban Ayahanda Prof. Haedar Nashir Pada Musycabis IV PCIM Arab Saudi

Oleh: Mohammad Affan Basyaib

RIYADH – Sore itu, matahari belum sepenuhnya tenggelam di langit Riyadh. Namun di Yogyakarta, malam telah turun. Melalui sambungan virtual yang menjembatani ribuan kilometer jarak dan perbedaan waktu, kami di Arab Saudi menerima “oleh-oleh” istimewa.

Ayahanda Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., hadir menyapa kami secara daring untuk membuka Musyawarah Cabang Istimewa (Musycab) ke-4 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi. Turut hadir membersamai kami perwakilan dari KBRI Riyadh Yaitu Bapak Mahendra, Dr. Erianto Nazar, dan Prof. Muhammad Irfan Helmy.

Meski lelah setelah menembus padatnya lalu lintas Jogja, beliau tetap hadir dengan energi penuh. Bukan sekadar formalitas seremonial. Beliau datang memberikan peta jalan. Sebuah kuliah peradaban yang mendalam dan menggugah, langsung menyentuh kesadaran terdalam kami sebagai kader yang sedang menimba ilmu di tanah suci.

PCIM sebagai Jembatan dan Muhasabah

Di awal penyampaiannya, Prof. Haedar menegaskan posisi vital PCIM. Kami bukan sekadar cabang di luar negeri, melainkan jembatan. Komunikator antara misi dakwah di tanah air dengan dinamika di negara setempat. Apalagi di Arab Saudi, peran ini terasa sangat krusial, sangat nyata terutama dalam melayani jemaah saat musim Haji dan Umrah tiba.

Menjelang Milad Muhammadiyah ke-113 pada 18 November nanti yang akan dipusatkan di Bandung, beliau mengingatkan bahwa perayaan bukan soal hura-hura. Milad adalah momen muhasabah (introspeksi). Menengok kelemahan diri untuk proyeksi ke depan. “Tidak ada organisasi yang menjadi besar tanpa muhasabah,” tegas beliau.

Islam Itu Agama Kualitas, Bukan Sekedar Kuantitas

Satu poin yang beliau tekankan berulang kali adalah soal “kualitas unggul“. Muhammadiyah pasca Muktamar Surakarta membawa mandat “Unggul Berkemajuan“.

Prof. Haedar mengajak kami mentadabburi Al-Qur’an. Islam selalu menuntut kualifikasi yang terus meningkat. Menjadi muslim saja tidak cukup, harus mukmin, muttaqin, bahkan muhsinin.

“Bertakwa saja diperintahkan untuk haqqa tuqatih (sebenar-benarnya takwa). Salat pun dituntut khusyuk dan harus bisa mencegah fahsya wal munkar (dari perbuatan keji dan tidak beradab). Itu semua berat. Itu menuntut kualitas terbaik,” ujar beliau. Artinya, Islam hadir di akhir zaman ini memang untuk kualitas, bukan sekadar banyaknya jumlah penganut.

Sebuah Prototipe Tamadun Berbasis Din

Bagian ini terasa sangat relevan bagi kami mahasiswa di Saudi. Beliau mengingatkan tentang wahyu pertama, Iqra’.

Iqra’-nya Islam itu distingtif, berbeda dengan tradisi Yunani yang sekadar melahirkan filsafat. Kita punya Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq—bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dari fondasi inilah lahir Al Madinah Al Munawwarah. Bukan sekadar nama kota, tapi kota berperadaban (tamadun) yang berbasis agama (addin) dan mencerahkan.

Beliau menjelaskan dengan runut bagaimana tamadun ini lahir dari rahim addin (agama). Dari Al-Qur’an dan Sunnah, mula-mula lahir ilmu-ilmu agama seperti Ulumul Qur’an, Tafsir, dan Hadis. Periode berikutnya, muncul Fikih dan Ushul Fikih dengan empat mazhab utamanya.

Namun sejarah tak berhenti di situ. Dari rahim yang sama, peradaban Islam selama delapan abad melahirkan sains, kedokteran, geografi, hingga filsafat saat Barat masih tertidur lelap. Mulai dari era Khulafaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, hingga Utsmaniyah, Islam terbukti bukan hanya soal akidah dan ibadah, tapi juga muamalah duniawiyah yang melahirkan peradaban agung.

Ini adalah prototipe, sampel eksemplar peradaban Islam. Kita beruntung sudah punya uswah hasanah dan qudwah yang jelas,” ujar beliau. Maka, tugas kita jika merasa berat berinovasi, cukup “copy-paste” saja semangat peradaban itu.

Beliau kemudian mengutip ayat Kuntum khaira ummah ukhrijat linnas (Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia). Menurut Prof. Haedar, ayat ini sejatinya adalah agenda proyeksi. Kita diminta menjalankan Islam dengan fondasi kokoh, sekaligus meneladani prototipe peradaban yang sudah terbukti unggul di masa lalu.

Jangan merasa cukup hanya belajar di kampus. Perkaya perspektif,” pesan beliau. Ahli tafsir harus paham sosiologi, ahli hadis harus melek sains, agar pandangan kita tidak sempit seperti orang buta yang mendeskripsikan gajah hanya dari belalainya.

Lima Karakter Islam Berkemajuan

Sebagai bekal, Ayahanda Haedar merinci kembali “Islam Berkemajuan” sebagai perspektif untuk menjawab tantangan zaman seperti AI dan Revolusi Industri 5.0:

  1. Bertauhid Murni: Prinsip dasarnya tauhid (mabda ala tauhid). Namun, pemahamannya tidak sempit hanya pada uluhiyah dan rububiyah. Tauhid harus dimaknai luas, mencakup hablum minallah, hablum minannas, dan relasi kesemestaan. Iman tidak cukup hanya percaya, tapi harus terkait dengan amal saleh dan ilmu.
  2. Ruju’ ilal Qur’an was Sunnah: Kembali kepada Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan pendekatan tekstual literal (bayani). Di Muhammadiyah, kita menggunakan manhaj tarjih yang mengintegrasikan bayani dengan burhani (rasionalitas, ilmu pengetahuan, konteks kekinian) dan irfani (pendekatan hati nurani). “Agar kita tidak seperti orang buta yang mendeskripsikan gajah hanya dari belalainya,” tegas beliau.
  3. Ihyaul Ijtihad wa Tajdid: Menghidupkan ijtihad dan tajdid. Pintu ijtihad tidak pernah tertutup karena selalu diperlukan untuk menjawab masalah baru. Tajdid diperlukan untuk terus memperbarui pemahaman keagamaan kita (liyujaddida dinaha).
  4. Wasathiyah (Moderat): Berpijak pada ayat Wa kadzalika ja’alnakum ummatan wasathan. Wasathiyah berarti kuat dalam prinsip, tapi toleran dalam cara. Beliau mengingatkan agar kita tidak mudah memutlakkan sesuatu sebagai “prinsip mati” yang tak bisa berubah (taghayyur). Seringkali apa yang kita anggap prinsip itu hanya sebatas level pengetahuan kita saat ini, ibarat orang yang baru mendaki di ketinggian tertentu. “Kalau semua dikunci sebagai hal yang tasbit (tetap), Islam tidak akan berkembang,” ingat beliau.
  5. Rahmatan Lil Alamin: Islam harus jadi rahmat nyata bagi semesta, bukan sekadar slogan.

Berhenti Berdemagogi, Buktikan Prestasi

Poin rahmatan lil alamin dielaborasi dengan tajam. Rahmatan lil alamin itu tidak bisa hanya dengan ceramah.

“Kalau hanya bicara, itu namanya demagogi. Anda mungkin bisa menghipnotis ribuan orang dengan pidato, tapi setelah pulang, umat tetap lapar dan susah,” ujar beliau.

Agar bisa menjadi rahmat, tangan kita harus di atas (memberi). Harus kaya, harus pintar, harus berdaya. Muhammadiyah membuktikannya dengan amal usaha nyata hingga ke luar negeri. Muhammadiyah Australia College di Melbourne kini disubsidi penuh pemerintah Australia karena kualitasnya yang unggul. UMAM berdiri tegak di Malaysia, hingga sekolah di Kairo. itu dakwah bil hal, bukan sekedar retorika.

Bahkan, Muhammadiyah baru saja mendapatkan pengakuan dunia. Lembaga resiliensi bencana kita memperoleh status Emergency Medical Team (EMT) dari WHO. Ini adalah pengakuan internasional pertama untuk organisasi kemanusiaan dari Indonesia. Ini bukti, bukan klaim sepihak.

Menelan Pil Pahit Realitas Kita

Di penghujung sambutannya, Prof. Haedar mengajak kita jujur melihat data. Beliau membuka data yang mungkin tidak nyaman didengar, tapi harus disampaikan.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan daya saing bangsa kita masih tertinggal di bawah tujuh negara ASEAN. Lebih pahit lagi, beliau mengutip data rilis dua tahun lalu yang menyebut rata-rata IQ orang Indonesia berada di angka 78,59. Kita disejajarkan dengan Timor Leste dan Papua Nugini.

Yang pintar memang ada di depan saya semua ini,” canda beliau pada kami di layar Zoom, “tapi mayoritas rakyat kita masih susah hidupnya, gizinya kurang.

Fakta ini pahit, tapi harus ditelan sebagai obat.

Jangan Takut “Kesandung”

Karena realitas itulah kita harus bergerak. Beliau mencontohkan program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah saat ini. Tujuannya mulia untuk memperbaiki gizi bangsa, meskipun dalam pelaksanaannya pasti ada masalah di sana-sini.

Bagi Prof. Haedar, masalah dalam sebuah gerakan itu wajar. “Kalau ingin hidup tanpa masalah, ya tidur saja. Itu pun masih bisa mimpi buruk,” kelakar beliau yang sarat makna. Bergerak (fantasyiru fil ardh) pasti berisiko “kesandung”, tapi itu hukum kehidupan yang jauh lebih mulia daripada diam tanpa karya.

Menutup perjumpaannya, beliau berpesan tentang ukhuwah. PCIM harus inklusif, merangkul saudara dari NU, PPI, dan lainnya dengan ketulusan. “Jangan berebut kuasa. Kalau ada kue, dimakan bersama,” pungkasnya.

Layar Zoom itu akhirnya tertutup, tapi PR besar baru saja dibuka di hadapan kami. Musycab ini harus jadi titik tolak: kita di sini untuk menjadi aktor peradaban, bukan sekadar penikmat tontonan.

Share