Jangan Kasih Panggung
oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)
Pasti pernah lihat. Topik remeh-temeh. Tiba-tiba viral di media sosial.
Anehnya, kita sering tahu topik itu justru dari orang yang mengingatkan. Yang teriak-teriak “jangan disebar“. Tapi screenshot-nya, link-nya, semua dia pamerkan. Tanpa sadar, dia yang ikut menyebarkan.
Lalu, kita sendiri. Pernah, kan. Terjebak dalam debat kusir. Panas sekali. Di kolom komentar. Padahal tidak ada gunanya sama sekali.
Hanya demi satu tiada lain agar tidak terlihat lemah. Agar menang.
Kita sering salah kaprah. Meladeni itu penting, ya. Membela kebenaran (Al-HAQ) itu bisa jadi wajib. Tapi, adu argumen bukan tujuan. Ia hanya alat. Nilainya? Tergantung hasil.
Jika membawa kebaikan, lakukan. Jika malah bikin kebatilan makin menyebar, ceritanya lain. Al-Qur’an yang merupakan pedoman kita berpesan. Pedoman yang sering kita lupakan:
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“…serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil.” (QS. Al-A’raf: 199).
Jahil itu siapa? Orang bodoh. Orang yang kalau kita ajak berdebat, tidak akan ada manfaatnya. “Tapi ini soal agama! Ada yang menghina ayat Allah!“. Justru, perintah Allah lebih tegas:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ…
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka…” (QS. Al-An’am: 68).
Berpalinglah. Kenapa? Apa kita membiarkan kebenaran diinjak-injak? Tidak. Justru sebaliknya.
Ini soal melindungi kebenaran. Melindungi martabatnya. Kebenaran itu mahal. Ia terlalu berharga untuk dilempar ke arena yang tidak menghargainya. Allah bahkan menyebut kaum munafik itu ‘kotoran’. Berdebat dengan mereka tidak akan membersihkan mereka. Malah bisa mengotori kita.
Lihat isu mulia. Isu penting. Sebut saja, Gaza. Ketika isu semulia ini ditarik-tarik ke perdebatan rendahan melawan orang-orang konyol, apa yang terjadi? Nilainya terdegradasi. Wibawanya luntur.
Inilah intinya. Ada orang-orang yang justru ‘hidup’ dari perdebatan. Mereka sengaja memancing. Mereka butuh panggung. Saat kita meladeni mereka, kita memberi apa yang mereka mau. Kita, tanpa sadar, membesarkan kebatilan. Menjadi corong gratis untuk mereka.
Saat itulah, adu argumen menjadi kontra-produktif. Saat itulah, ‘berpaling’ dan ‘mengabaikan’ menjadi senjata pamungkas. Senjata yang mematikan. Yang memadamkan api. Kita terlalu sibuk berdebat dengan musuh kebenaran. Sampai kita lupa bahwa ada jutaan ‘pencari kebenaran’ di luar sana.
Mereka haus. Mereka tidak tahu harus mencari ke mana. Tapi si host? Si pendakwah? Sibuk. Sibuk berdebat tanpa akhir. Atau sibuk “mengingatkan” soal viral remeh tadi.
Ingat Surah ‘Abasa ini?
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ (3
“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. ‘Abasa: 1-3).
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ditegur. Karena lebih fokus pada pembesar yang jelas-jelas menolak, dan mengabaikan si buta yang tulus datang mencari hidayah.
Kita ini siapa? Berani-beraninya mengabaikan yang tulus, dan sibuk meladeni yang palsu. “Tapi, nanti kita dibilang lemah. Dibilang pengecut. Dibilang lari dari debat.” Biarkan. Ada janji Allah:
وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا
“…dan jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan membahayakanmu sedikit pun…” (QS. Al-Ma’idah: 42). Sedikit pun.
Syaratnya ya ‘berpaling’-nya harus total. Sungguhan. Jangan dilirik-lirik lagi. Jangan di-follow. Kita harus belajar kapan harus ‘pasang badan’. Dan kapan harus ‘buang badan’.
Tujuan kita bukan untuk pamer otot intelektual. Bukan untuk ‘menang’ debat. Tujuan kita ya membuat perbedaan. Mengantarkan kebenaran. Memadamkan kebatilan.
Dan betapa banyak perbedaan besar, justru dibuat dengan cara: DIAM. Mengabaikan.