Halo Effect dan Panah Beracun

Halo Effect dan Panah Beracun

oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajeen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Pernah merasakannya? Di jalan. Di mal. Di layar handphone. Sekilas melihat seseorang. Wajah yang menurut kita sempurna.

Tiba-tiba, dunia kita terasa hambar. Tiba-tiba, yang kita miliki di rumah terasa kurang. Tiba-tiba, rumput tetangga terlihat jauuuh lebih hijau.

Kenapa bisa begitu? Kenapa yang jauh, yang tidak kita miliki, selalu tampak lebih mempesona? Jawabannya Itu ilusi.

Itu tipuan mata.

Seorang ulama besar, Ibnu Muflih, sudah membedahnya 700 tahun lalu. Jauh sebelum psikolog modern menemukan istilahnya. Kata beliau: “Hati-hati melepas pandangan.”

Kenapa? “Karena mata melihat apa yang tidak bisa diraih, pada kondisi yang tidak sebenarnya.” Luar biasa. Mata kita, kata beliau, otomatis mempercantik apa yang tidak mungkin kita dapatkan.

Psikolog zaman ini menyebutnya Halo Effect. Efek Halo.

Kita melihat satu titik kelebihan. Fisik, misalnya. Otak kita otomatis memberi bonus. Kita ciptakan ilusi. Kita anggap dia pasti baik hati, pasti sempurna, pasti membahagiakan. Pasti segalanya. Padahal? Belum tentu.

Wajah yang di jalan terlihat memukau itu, di rumahnya biasa saja. Orang terdekatnya tahu persis kekurangannya. Tahu marahnya. Tahu lelahnya. Tidak ada yang istimewa. Ilusi itu tercipta hanya karena satu hal yaitu jarak.

Karena kita tidak memilikinya. Jiwa kita memang begitu. Selalu penasaran pada apa yang bukan haknya. Di sinilah letak bahayanya. Pandangan sekilas itu. Yang kita anggap “ah, ngga sengaja“.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam menyebutnya panah beracun.  Panah Iblis.

Panah itu menancap lurus ke gerbang hati. Membakar. Membuat gelisah. Ujungnya api penyesalan dan ketidakpuasan. Sakit hati. Air mata.

Itulah mengapa perintah dari Allah sangat jelas. Tegas. Bukan basa-basi.

Ghadul Bashar! Tahan pandanganmu!

Allah berfirman: “Katakanlah kepada orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya…‘” (An-Nur:30) Kenapa harus ditahan? “…yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.” (An-Nur:30)

Lebih menenangkan. Otak kita mungkin protes. Rugi, dong. Tidak bisa cuci mata. Tapi Allah Azz awa Jalla tahu persis apa yang kita rasakan. Dia tahu itu berat. Maka, Dia tawarkan ganti yang jauh lebih mahal.

Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman: “Barangsiapa meninggalkannya (pandangan haram) karena takut kepada-Ku…” Apa gantinya? Uang? Jabatan?

Bukan.

Aku akan menggantinya dengan iman, yang ia rasakan manisnya (halawah) di dalam hatinya.” Bukan paksaan. Bukan siksaan Tapi manisnya iman.

Itu rasa. Bukan sekadar teori. Rasa tenang. Rasa cukup. Rasa damai yang tidak bisa dibeli oleh ilusi Halo Effect mana pun.  Apa yang kita kejar di luar sana, yang memukau mata itu, besok akan hilang. Sirna. Fana.

Apa yang ada di sisi Allah, kata Al-Quran, jauh lebih baik dan kekal. Pilihannya ada di mata kita. Mau ilusi sesaat yang membakar? Atau manisnya iman yang menenangkan?

Share