Serial Cetakan Rusak (6): Logika Truk Tol
Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)
Rumah kosong. Sekolah (asrama) tanpa guru cerdas. Apa hasilnya? Apakah mungkin, pemimpin yang nalarnya ikut kosong? Yang logikanya sering terbolak-balik?
————————————————–
“Karena kita tidak berkualitas, pemimpin kita tidak berkualitas” ujar Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja—Ami Kadir. Kalimat ini menampar. Menyakitkan.
Kualitas pendidikan yang merosot—karena cetakan gurunya rusak, karena orang-orang cerdas tak mau lagi mengajar—akhirnya menghasilkan pemimpin.
Pemimpin yang, menurut Ami Kadir, seringkali tidak punya nalar ekonomi strategis.
Cara berpikirnya sering terbalik. Jungkir balik.
“Contohnya jalan tol,” kata Ami Kadir. Infrastruktur kebanggaan. Dibangun mahal-mahal.
Tapi lihat siapa yang paling dibebani tarifnya? Kendaraan bisnis. Truk pengangkut logistik. Bus niaga.
Roda-roda penggerak ekonomi justru dipalak paling keras di gerbang tol. Aneh kan?
Padahal, kata Ami Kadir, logikanya harus dibalik total. Seharusnya kendaraan niaga itu gratis. Tis!
“Harusnya itu nol!” tegasnya. Lho? Gila! Negara dapat uang dari mana? Nanti bangkrut dong bangun tol mahal-mahal?
Tenang. Kata Ami Kadir, ini soal nalar. Logikanya dibalik.
Jika truk dan bus niaga gratis masuk tol, apa yang terjadi? Biaya logistik. Biaya transportasi bahan baku dan barang jadi. Turun drastis.
Mengapa? Jelas. Truk lebih hemat bahan bakar di tol. Jalannya mulus. Kecepatan konstan.
Waktunya juga lebih cepat. Tidak terjebak macet di jalan arteri. Pengiriman lebih efisien.
Efek berantainya dahsyat. “Itu akan menurunkan harga pokok,” jelas Ami Kadir. Harga pokok produksi (HPP) jadi lebih murah.
Jika HPP turun, harga barang di pasar ikut turun. Jadi lebih murah. Terjangkau.
Daya beli rakyat naik. Ekonomi berputar lebih kencang.
Di situlah negara mendapat uang tol-nya. Bukan dari gerbang tol. Tapi dari pajak.
Dari PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang naik karena transaksi meningkat. Dari PPh (Pajak Penghasilan) badan usaha yang makin untung karena biaya logistik turun.
Negara nombok di gerbang tol, tapi panen besar dari pajak ekonomi yang sehat. Win-win solution.
Lalu, siapa yang harusnya bayar tol mahal? “Kendaraan pribadi,” tandas Ami Kadir.
Mobil-mobil pribadi yang menikmati kenyamanan jalan mulus. Untuk kepentingan pribadi. Liburan. Nongkrong.
Bukan untuk menggerakkan ekonomi secara langsung. Bebani mereka lebih tinggi. Adil kan?
Logika terbalik ini, kata Ami Kadir, juga terjadi di arena lain. Perdagangan internasional.
Ia memberi contoh menyakitkan. Kalau kita kirim barang ke Amerika Serikat, pajaknya bisa 12,5%. Tinggi. Sulit bersaing.
Tapi kalau Amerika kirim barang ke sini? Terutama produk pertanian? “Nol persen!” katanya geram.
Kita buka lebar-lebar pintu rumah kita. Tanpa proteksi. Tanpa perlawanan.
Hasilnya? Bisa ditebak. “Habis petani. Hancur semua”. ujarnya.
Petani kita kalah telak. Diadu dengan produk impor dari negara maju.
Produk impor itu menang bukan karena kualitasnya selalu lebih baik. Tapi karena mereka bermain di skala besar (big scale). Produksi massal. Efisien.
Belum lagi, seringkali mereka disubsidi besar-besaran oleh negaranya. Harga Pokok Produksi (HPP) mereka jadi jauh lebih murah.
Petani kita? Dengan lahan sempit. Teknologi seadanya. Tanpa subsidi memadai. Mana bisa bersaing?. Kalah sebelum bertanding.
Ini bukan sekadar soal teknis kebijakan tarif atau bea masuk. Ini soal kualitas nalar pemimpin.
Soal kemampuan berpikir strategis. Jangka panjang. Berpihak pada kepentingan nasional.
Nalar yang, menurut Ami Kadir, akarnya ada di mana? Di sistem pendidikan.
Sistem pendidikan yang gagal menarik orang-orang terbaiknya, orang-orang cerdas-nya, untuk mau menjadi guru.
Sistem yang mungkin lebih banyak menghasilkan orang pintar (hafal teori) tapi kurang cerdas (nalar kritis dan analisis lemah).
Nalar pemimpin yang terbalik-balik ini adalah produk akhir. Buah pahit. Dari cetakan rusak. Dari pabrik sumber daya manusia yang fondasinya keropos: Guru.
—-
Baca Serial Cetakan Rusak dari awal:
Pembuka: https://affanbsy.com/cetakan-rusak/
Bag.1: https://affanbsy.com/serial-cetakan-rusak-gaji-rp-750/
Bag.2: https://affanbsy.com/serial-cetakan-rusak-singapura-seperti-kita/
Bag.3: https://affanbsy.com/serial-cetakan-rusak-panggilan-jiwa/
Bag.4: https://affanbsy.com/serial-cetakan-rusak-visi-100-tahun/
Bag.5: https://affanbsy.com/serial-cetakan-rusak-gurunya-mana/