Mahalnya Apresiasi

Mahalnya Apresiasi

​Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

​Ada satu penyakit kronis di ruang kelas kita: Takut salah.
​Murid memilih diam. Daripada menjawab tapi ditertawakan.

Mahasiswa memilih duduk di pojok belakang. Daripada angkat tangan lantas dibantai dosen.
​Akibatnya kelas jadi kuburan. Hening. Pasif.

​Tapi malam itu, di ruang tamu Syaikh Dr. Ashim Al-Luhaidan, hukum itu tidak berlaku.
​Saya menyaksikan sebuah anomali.

​Syaikh melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit. Teka-teki yang memeras otak. Anehnya, para mahasiswa berebut menjawab. Padahal, jawaban mereka rata-rata salah.

​Kenapa mereka berani? Karena Syaikh Ashim punya Seni Memuliakan Kesalahan.

​Perhatikan cara beliau merespons jawaban yang melenceng. Beliau tidak pernah memotong dengan kata vonis: “Salah!”, atau dengan nada tinggi: “Ngawur kamu!”
​Tidak.

​Ketika ada mahasiswa menjawab ikhlas padahal jawabannya jujur, Syaikh tersenyum. Beliau berkata lembut:
​قَرِيبٌ، لَكِنْ لَيْسَ هُوَ
​(Dekat. Tapi bukan itu).

​Ternyata, ini bukan monopoli Syaikh Ashim seorang.

Selama berinteraksi dengan dunia akademik di Saudi, saya menemukan pola indah ini.

Para Masyaikh dan Profesor di sini punya SOP tak tertulis: Mulut mereka basah dengan apresiasi.

​Kosa kata pujian mereka kaya raya.

​Jika jawaban benar dan sempurna, meluncurlah kata: أَحْسَنْتَ (Kamu bagus), مُمْتَاز (Istimewa), atau جَمِيل (Indah sekali).

​Jika jawaban itu unik atau cerdas, mereka tak segan memuji: مُبْدِع (Kreatif/Inovatif).

​Bahkan ada pujian yang membuat hati melambung tinggi karena merasa sangat dipercaya:
​لَيْسَ بِمُسْتَغْرَبٍ مِنْكَ الْإِبْدَاعُ
​(Tidak heran, kreativitas ini memang khas dirimu).

​Dan jika jawaban itu salah atau kurang tepat? Mereka tetap menghargai usaha mahasiswanya: مَا قَصَّرْتَ (Kamu sudah berusaha maksimal/totalitas).

​Lalu ditutup dengan senjata pamungkas berupa doa.

Apapun jawabannya, ujungnya selalu indah:
​اللَّهُ يَرْضَى عَلَيْكَ
(Semoga Allah ridha kepadamu).
​اللَّهُ يَرْفَعُ قَدْرَكَ
(Semoga Allah mengangkat derajatmu).

​Rasanya beda.

Diomeli bikin mental jatuh. Didoakan bikin hati luluh. Dibilang salah bikin malu. Dibilang hebat bikin kita lebih percaya diri.

​Bandingkan dengan kita di Tanah Air.

​Harus diakui, di Indonesia, apresiasi itu barang langka. Mahal harganya. Kita ini bangsa yang pelit memuji. Kosa kata kita terbatas. Paling mentok hanya bilang “Ya, betul”. Datar.

​Tapi kalau murid menjawab salah? Habis.
​Dicerca. Diolok-olok teman sekelas. Kadang dilabeli lambat. Guru sering kelepasan marah. “Masa gitu aja ngga tahu!”

​Akibatnya, murid kita tumbuh menjadi manusia yang insecure. Kenyang makan celaan, tapi lapar pujian.

​Dalam ilmu pendidikan modern, apa yang dilakukan para Syaikh ini disebut Psychological Safety (Keamanan Psikologis).

Intinya sederhana.

Orang hanya berani bicara kalau merasa aman. Aman untuk berbuat salah.

Begitu kesalahan divonis dengan rasa malu, otak langsung shutdown. Macet.

Proses belajar pun tamat.

​Para ulama Saudi telah menciptakan zona aman itu.

​Tapi—dan ini hebatnya—zona aman itu tidak lantas membuat kami santai. Tidak. Suasananya tetap tegang.

​Mengapa? Karena Syaikh menggunakan metode jemput bola.

​Beliau tidak menunggu. Beliau memancing kami.

“Mana yang jurusan Quran?” tanya beliau.
“Mana yang jurusan Aqidah?”

​Beliau menagih jawaban berdasarkan spesialisasi kami. Ini menciptakan kombinasi perasaan unik: takut dan berani sekaligus.

​Kami takut karena dituntut menjawab sesuai bidang. Adrenalin terpompa.

​Tapi kami tidak takut salah. Kami tahu, kalaupun jawaban meleset, kami tidak akan dipermalukan. Kami justru akan panen doa: اللَّهُ يَحْفَظُكَ.

​Hasilnya adalah kelas yang super-hidup. Energi berputar kencang. Tidak ada yang tidur di ruangan itu. Semua otak bekerja 100 persen.

​Malam itu saya belajar, menjadi guru bukan sekadar soal siapa yang paling pintar.
Tapi siapa yang paling bisa memanusiakan muridnya.

​Guru yang killer membuat murid takut salah. Guru yang lembek membuat murid meremehkan.

​Syaikh Ashim ada di tengah-tengah. Beliau menuntut kami berpikir keras, tapi beliau juga menyediakan kasur empuk berupa doa-doa indah jika kami terpeleset jatuh.

Validasi yang elegan. Itulah kuncinya. Karena semuanya adalah PROSES BELAJAR.

Batu, 10 Rajab 1447H

Share