Hidungmu Tetap Hidungmu

Oleh Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Bergaul itu seni. Seni yang rumit. Kita sering kali merasa lelah. Kecewa. Kok teman kita  begini. Kok pasangan kita begitu. Kok tim kita tidak becus.

Kalau terus dituruti, kita bisa hidup sendirian. Di gua. Ada satu resep kuno yang sangat ampuh untuk menjaga kewarasan dalam berhubungan. Resepnya  fokuslah pada sisa kebaikannya.

Jangan fokus pada kesalahannya yang baru saja terjadi. Ingat-ingat lagi niat baiknya selama ini. Ingat lagi jasa-jasanya yang lalu.

Kalau timbangan kebaikannya masih lebih berat, jangan diputus hubungannya. Pertahankan.

Ada seorang ulama yang bersyair indah: “Kalau kekasih datang membawa satu dosa, kebaikannya akan datang membawa seribu syafaat (pembelaan)”.

Satu salah, dimaafkan oleh seribu kebaikan. Fair, bukan? Al-Qur’an, kitab yang luar biasa itu, sudah memberi kaidah dasarnya. Sangat jelas.

Coba buka Surat Al-A’raf ayat 199. Allah berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

Imam Mujahid, ahli tafsir generasi tabi’in, menjelaskan ayat ini dengan sangat brilian. Kata beliau, terimalah perilaku manusia apa adanya. Ambil yang mudah-mudah saja dari mereka.

Jangan mempersulit diri. Jangan menuntut standar malaikat kepada manusia. Dan yang terpenting itu jangan terlalu kepo dengan isi hati mereka. Jangan korek-korek kekurangannya sampai ke akar-akarnya.

Nasihat ini penting sekali. Terutama bagi kita yang punya jiwa sensitif. Yang punya standar moral tinggi. Yang perfeksionis.

Orang tipe ini paling mudah menderita. Hatinya gampang tergores. Kalau melihat kekurangan orang lain, dia yang stres. Sarafnya bisa tegang. Kesehatannya bisa terganggu hanya karena memikirkan perilaku orang lain.

Maka, menurunkan standar itu kadang perlu. Bukan berarti kompromi pada keburukan, tapi lebih realistis. Ingatlah syair Arab yang sangat dalam maknanya ini:

اقْبَلْ مِنَ النَّاسِ مَا تَيَسَّرْ … وَدَعْ مِنَ النَّاسِ مَا تَعَسَّرْ

فَإِنَّمَا النَّاسُ مِنْ زُجَاجٍ … إِنْ لَمْ تَرَفَّقْ بِهِ تَكَسَّرْ

“Terimalah dari manusia apa yang mudah engkau dapat, dan tinggalkanlah apa yang sulit…” “Sesungguhnya manusia itu tak ubahnya gelas kaca, jika engkau tidak lembut padanya, ia akan pecah.”

Manusia itu barang pecah belah. Harus hati-hati memegangnya. Ujian terberat dari prinsip gelas kaca ini biasanya terjadi di rumah sendiri. Antara orang tua dan anak.

Semua orang tua pasti punya mimpi. Anaknya harus hebat. Hafal Qur’an. Jadi dokter. Jadi Insinyur. Jadi pengusaha sukses. Akhlaknya mulia.

Kita sudah keluar uang banyak. Keluar tenaga. Doa siang malam.

Tapi, qadarullah, hasilnya kadang tidak sesuai harapan. Anak tumbuh biasa-biasa saja. Atau malah “melenceng” sedikit dari rencana besar kita. Di sinilah banyak orang tua gagal lulus ujian.

Mereka kecewa berat. Hatinya sempit. Hidupnya jadi pahit. Yang bahaya, mereka mulai protes pada pembagian takdir Allah. Mereka merasa Allah tidak adil.

Padahal, andai mereka mau sedikit melebarkan dadanya, mereka akan selamat dari stres berkepanjangan.

Terimalah takdir itu. Ridhailah pembagian-Nya. Tetaplah optimis. Tugas kita hanya ikhtiar (berusaha), hasil akhir itu hak prerogatif Allah. Jangan rampas hak Allah.

Ada penyair bijak berkata: “Tugasku hanya berusaha… Tapi kesuksesan bukan di tanganku.”

Kunci hati anak-anak kita ada di tangan Allah. Siapa tahu, hari ini mereka belum baik, tapi sepuluh tahun lagi mereka jadi ahli ibadah. Atau, bisa jadi dari keturunan mereka kelak lahir ulama besar yang doanya mengalir untuk kita.

Kita tidak pernah tahu skenario langit. Maka, terimalah anak kita apa adanya. Ada pepatah Arab yang terdengar menggelitik, tapi sangat realistis

“Hidungmu adalah bagian dari dirimu, meskipun dia pesek (ingusan).”

Seburuk apa pun, dia tetap anak kita. Darah daging kita.

Kalau kita tolak dia hanya karena tidak sesuai harapan, kita rugi dua kali. Sudah hatinya sakit, hubungan putus pula.

Prinsip ini juga berlaku sebaliknya. Bagi anak yang diuji dengan orang tua yang sulit. Galak, mungkin. Atau penuntut.

Bersabarlah. Tetap berbuat baiklah. Jangan paksa mereka berubah secara instan. Mereka juga gelas kaca. Kalau dipaksa keras, bisa pecah.

Terima yang ada, sambil terus berdoa. Itulah jalan selamat.

#tadabburalquran

Share