Serial Cetakan Rusak: Gurunya Mana? (Bag.5)

Serial Cetakan Rusak: Gurunya Mana?

Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)

Isi pendidikan kita goyah. Ganti menteri, ganti arah. Tak punya jangkar 100 tahun. Akibatnya? Muncul program-program instan. Yang terdengar hebat. Yang mungkin populis. Seperti ide Sekolah Rakyat ini. Niatnya bagus? Mungkin. Tapi…


Ada gagasan program Sekolah Rakyat. Keren namanya. Targetnya mulia: Mengambil anak-anak dari keluarga kelas bawah. Yang mungkin rentan putus sekolah. Lalu, memasukkan mereka ke asrama (boarding). Diberi fasilitas. Diberi makan. Dijauhkan dari lingkungan buruk.

Tapi Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja—Ami Kadir—skeptis. Sangat skeptis.

Ini bukan didasari oleh kebutuhan,” ujarnya tajam dalam diskusi kami. “Tapi politik.”

Ouch. Politik? Sekadar bagi-bagi proyek? Sekadar pencitraan peduli wong cilik?

Masalahnya, kata Ami Kadir, bukan pada niat baiknya (kalaupun ada). Tapi pada pertanyaan paling fundamental. Paling dasar. Yang sering dilupakan dalam euforia program baru:

“Gurunya mana?”

Ya. Gurunya siapa? Kualitasnya bagaimana? Siapkah mereka?

Menangani sekumpulan anak-anak dengan latar belakang super beragam—mungkin dari jalanan, mungkin korban broken home, mungkin punya trauma—dalam satu atap asrama 24 jam? Itu pekerjaan maha berat.

Butuh guru yang cerdas, bukan sekadar pintar. Ingat bedanya? Cerdas itu soal nalar, kreativitas, empati, kemampuan analisis. Pintar cuma soal materi.

Tanpa guru yang super berkualitas—yang cerdas, sabar, dan terlatih—asrama justru bisa menjadi kawah candradimuka baru. Tempat masalah berkumpul. Mengkristal. Dan meledak.

Rokok keluar, video (porno) keluar, bullying keluar,” kata Ami Kadir, cemas. Perilaku negatif dari lingkungan asal bisa saling menular di asrama.

Bahkan, bisa lebih parah. Bisa-bisa terjadi kekerasan fatal. “Bisa terjadi pembunuhan,” ujarnya serius, merujuk kasus yang pernah ia dengar di tingkat SMA. Ngeri.

Lalu, mengapa gagasan asrama seperti Sekolah Rakyat ini muncul? Mengapa orang tua kini berbondong-bondong mencari boarding school?

Karena rumah sebagai lembaga pendidikan pertama, kini sedang rapuh. Sedang kosong.

Menurut Ami Kadir, yang mendidik anak itu idealnya ada dua pilar: rumah dan sekolah. Rumah adalah utama. Sekolah hanya membantu.

Tapi realitasnya? Terbalik. “Bapak Ibu kerja. Pulang (kerja larut), gak ada bapaknya, gak ada ibunya (di rumah saat anak butuh),” kata Ami Kadir.

Orang tua sibuk mencari nafkah. Mengejar karier. Mengejar cicilan. Sang Rektor Pertama sedang tidak menjalankan tugas utamanya di kampus rumah.

Siapa yang mengisi kekosongan itu? Siapa yang mengasuh? Siapa yang menanamkan nilai?

Anak-anak akhirnya diasuh oleh lingkungan. Oleh teman sepermainan. Oleh tetangga. Oleh tontonan di televisi atau YouTube. Oleh gawai (gadget). Karakter terbentuk serampangan. Nilai-nilai terserap acak. Tanpa filter. Tanpa panduan orang tua.

Karena rumah gagal menjalankan fungsinya, orang tua panik. Merasa bersalah. Lalu mencari jalan pintas: boarding school. Pesantren modern. Sekolah berasrama.

Mereka berharap sekolah bisa mengambil alih total peran yang hilang di rumah. Berharap asrama bisa menjadi benteng penyelamat dari pergaulan rusak. Berharap karakter anak bisa dicetak ulang di sana.

Di sinilah peran guru menjadi super vital. Lebih vital dari sebelumnya. Tugas guru bukan lagi sekadar mengajar materi pelajaran di kelas. Apalagi di level dasar atau menengah.

Tugas terberatnya adalah mengisi kekosongan dari rumah. Menanamkan “kemauan dan kemampuan belajar mandiri” pada anak. Membangun kembali watak yang mungkin sudah terlanjur retak.

Ini pekerjaan guru cerdas. Guru yang punya nalar analitis tajam. Punya kreativitas tinggi. Punya empati mendalam. Beda kelas dengan dosen, yang penting pintar menguasai materi spesifik.

Lebih runyam lagi di boarding school. Beban tidak hanya di pundak guru kelas. Ada figur lain yang perannya mungkin lebih krusial: musyrif atau pengasuh asrama. Mereka yang 24 jam bersama anak. Mereka yang menangani anak saat bangun tidur hingga tidur lagi. Saat makan, bermain, belajar malam, bahkan saat sakit atau homesick.

Siapa mereka? Apa kualitasnya? Apa kompetensinya? Apa mereka dilatih khusus untuk menangani anak-anak bermasalah dari rumah kosong? “sepengetahuan Affan, belum ada sekolah pengasuh,” ujar saya dalam diskusi itu. Kita punya sekolah guru, sekolah perawat, sekolah bidan. Tapi sekolah musyrif? Belum terdengar.

Ami Kadir mengkritik keras program asrama seperti Sekolah Rakyat yang tidak disiapkan dari hulunya. Fokusnya salah. “Gak disiapkan gurunya,” ujarnya geram. Tidak disiapkan pengasuhnya.

Yang dipikirkan mungkin hanya membangun gedung megah. Menganggarkan dana besar. Lalu, “kasih duit sebanyak-banyaknya, kasih dinas pendidikan, sudah selesai,” sindirnya. Proyek fisik jalan, tapi roh-nya—guru dan pengasuh berkualitas—terlupakan.

Jika rumah sudah kosong dari pendidikan karakter, dan sekolah (asrama) diisi oleh guru dan pengasuh yang tidak disiapkan, tidak cerdas, tidak berkualitas untuk tugas seberat itu, kita tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita hanya sedang memindahkan masalah ke tempat yang baru. Mengumpulkannya dalam satu wadah. Yang potensial meledak kapan saja. Mungkin malah memperbesarnya. Program bagus di atas kertas, tapi bom waktu dalam realitas.

Share