Talang Air di Riyadh

Talang Air di Riyadh

Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Direktur ABAT Academy, Dewan Pengawas Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Arab Saudi)

SENIN lalu. Tanggal 1 Desember 2025. Riyadh sedang sibuk-sibuknya.

Tapi Wisma KBRI Riyadh terasa lebih hangat dari biasanya. Tamu istimewa datang: Ayahanda Prof. Dr. H. Haedar Nashir. Ketua Umum PP Muhammadiyah itu tidak datang sendirian. Di belakangnya, berbaris 6 pimpinan dan 9 rektor. Semuanya dari perguruan tinggi Muhammadiyah Aisiyah.

Tentu, tuan rumah “kecil” –para perantau persyarikatan– tak mau ketinggalan.

Saya hadir di sana. Selain sebagai Direktur ABAT Academy, juga aktif di Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muhammadiyah Arab Saudi. Kami datang bersama pengurus lainnya: Budi Marta, Rano Dwijaya dan Ibu Ani Dwi Agustina.

Rombongan besar ini disambut tuan rumah KBRI Riyadh dengan wajah sumringah.

Sugiri Suparwan, Wakil Kepala Perwakilan (DCM) KBRI Riyadh, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Lulusan Al Azhar Kairo ini tahu betul siapa tamunya: pimpinan salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di tanah air.

Bulan lalu, teman-teman PCIM Arab Saudi bikin Musycab di sini. Kami senang sekali,” kata Sugiri.

Ia lalu memperkenalkan timnya. Lengkap. Mulai atase hukum, pendidikan, pertahanan, sampai staf lokal. Ini sinyal: KBRI rumah untuk semua. Termasuk warga Muhammadiyah.

Tapi, Sugiri tidak hanya basa-basi. Ia langsung curhat. Tentang beban berat yang dipikul KBRI. Masalah WNI di Saudi itu banyak. Tumpuk-menumpuk. Grafiknya bukannya turun, malah naik.

Sugiri butuh bantuan. Ia menodong Muhammadiyah.

Muhammadiyah gudangnya pakar. SDM-nya unggul. Tolong bantu kami bina WNI di sini. Bisa datang langsung, atau daring,” pintanya.

PROF Haedar tersenyum.

Ia sepakat soal posisi Saudi. Tak tergantikan. Ada dua kota suci di sana. Negara manapun tak bisa menggesernya.

Tapi obrolan Ayahanda Prof Haedar melompat lebih jauh. Ke utara Saudi: Palestina dan Israel.

Sampai kapan kemelut ini? Apa jalan keluarnya?” tanya Ayahanda. Pertanyaan retoris.

Guru besar Ilmu Pemerintahan ini realistis. Solusi dua negara (two state solution) itu indah di kertas, tapi sulit di lapangan tanpa konsolidasi. Dunia Islam, kata Haedar, harus menawarkan jalan tengah. Jalan moderat.

Jangan hanya berhenti di podium forum internasional. Jangan cuma melahirkan deklarasi. “Deklarasi itu mengubah apa?” sindirnya halus.

Dari politik global, Ayahanda Prof. Haedar beralih ke sains. Ke obsesi Muhammadiyah saat ini: Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

Kenapa harus KHGT?

Agar umat Islam tidak bingung. Agar awal puasa dan Lebaran tidak beda-beda terus. “Ini metode ilmiah. Eksak. Pasti,” tegasnya. Haedar ingin kepastian. Sesuatu yang terukur.

TAPI KBRI Riyadh hanyalah satu dari sekian titik strategis. Misi muhibah Prof. Haedar kali ini benar-benar maraton diplomasi. Jadwalnya padat merayap.

Di ibu kota Saudi ini, Prof. Haedar juga menyambangi markas Muslim World League (MWL). Bertemu langsung dengan sang Sekretaris Jenderal, Syeikh Muhammad Al-Isa. Diskusinya berbobot: membedah potensi-potensi kerja sama antar dua organisasi besar.

Tak cukup di situ. Rombongan juga menggelar rapat internal dengan King Salman Relief. Penjajakan kerja sama kemanusiaan sedang dimatangkan.

Dari Riyadh, rombongan tidak langsung pulang. Mesin masih panas. Mereka akan bertolak ke Makkah. Tujuannya satu: menandatangani MoU dengan Universitas Ummul Qura.

Lalu lanjut ke Kota Nabi. Di Madinah, giliran Universitas Islam Madinah (UIM) yang akan teken kontrak kerja sama. Muhammadiyah benar-benar sedang panen jejaring di Tanah Suci.

KEMBALI ke curhatan Sugiri soal TKI tadi.

Ayahanda Prof. Haedar mengangguk. KBRI memang harus jadi jembatan kokoh. Dan Muhammadiyah? Siap membantu.

Prof. Haedar lantas mengeluarkan metafora yang indah: Talang Air.

Kami ini seperti talang air. Mediator. Bukan untuk kami sendiri,” katanya. Talang air tidak meminum air yang dilewatinya. Ia hanya mengalirkan ke tempat yang membutuhkan.

Hanya saja, ada satu ganjalan di hati Ayahanda Prof. Haedar. Soal marwah. Soal harga diri bangsa.

Jumlah orang Indonesia di Saudi itu luar biasa banyak. Jemaah hajinya membludak. Umrahnya jutaan. TKI-nya menyebar.

Secara kuantitas kita raksasa. Tapi secara kualitas perlakuan?

Prof. Haedar merasakan sendiri bedanya. Di imigrasi, jemaah kita sering jadi bahan guyonan. Seperti direndahkan. “Di sini disuruh ini itu. Beda sekali pelayanannya dengan di Eropa,” keluhnya.

Ia teringat surat Al Hujurat ayat 13. Bukankah kita diciptakan bersuku-bangsa untuk saling mengenal?

Apa memang pola relasi mereka begitu? Mudah-mudahan bukan karena pandangan jelek ya,” tutup Ayahanda Prof. Haedar.

Sebuah pertanyaan yang menyisakan tanda tanya besar bagi kita semua.

Share