Jangan Salah Pinang di Gerbang Awal (part 2)
oleh Mohammad Affan Basyaib
(Direktur ABAT Academy)
oke, kita lanjutkan ke bagian yang ke dua. Masih dalam tahap membentuk.
2. Induksi: “Ospek” Wajib Pimpinan
Misalkan Anda sudah dapat orangnya. Lolos seleksi. Kelihatannya hebat. Dia tanda tangan kontrak.
Apakah proses “Membentuk” sudah selesai?
Belum.
Ini kesalahan fatal kedua yang sering terjadi. Karyawan baru diterima, lalu langsung dilepas ke mejanya. “Selamat bergabung, silakan mulai bekerja.“
Dia dibiarkan bingung, mencari-cari sendiri cara kerja di tempat baru.
Tahap kedua dari Membentuk adalah Induksi atau Orientasi.
Ini adalah ospek wajib bagi karyawan baru. Durasinya bisa dua minggu, sebulan, bahkan bisa sampai dua atau tiga bulan.
Kenapa induksi ini sangat penting?
Karena karyawan baru itu tidak datang dengan kepala kosong. Dia membawa budaya lama. Budaya dari kantor sebelumnya. Budaya dari kampusnya. Budaya santai di rumahnya. Budaya nongkrong di ‘warkop’-nya.
Jika Anda tidak mencuci budaya lama itu dan menggantinya dengan budaya organisasi Anda, dia akan merusak tatanan yang ada.
Di tahap induksi inilah kita menanamkan nilai-nilai. Visi dan misi organisasi kita. Kita mau ke mana, sih? Caranya bagaimana?
Dan yang paling penting: kita tanamkan aturan main.
Aturan harus ditegakkan sejak detik pertama. Bukan nanti kalau dia sudah salah.
Bahkan untuk hal-hal yang dianggap sepele. Di mana harus parkir motor? Di mana harus meletakkan tas? Bagaimana standar berpakaian? Kapan jam salat? Kapan jam istirahat?
Di masa induksi, dia harus dipepet terus. Diawasi. Dibimbing. Diberi tahu mana yang benar dan mana yang salah menurut standar kita.
Lalu, siapa yang paling ideal melakukan induksi ini?
Bukan HRD. Bukan manajer.
Tapi Pimpinan Tertinggi. Sang Owner atau Direktur.
Kenapa? Karena pimpinan harus menunjukkan gayanya secara langsung. “Di organisasi ini, saya disiplin. Anda harus ikut. Di yayasan ini, kita melayani. Anda harus ramah.”
Pesan itu akan jauh lebih kuat jika disampaikan langsung oleh sang pimpinan tertinggi.
Jika proses rekrutmen adalah soal menjaring bahan baku terbaik, maka proses induksi adalah soal mencetak bahan baku itu agar sesuai dengan cetakan yang kita inginkan.
Gagal di gerbang awal ini, jangan kaget jika setahun kemudian Anda pusing tujuh keliling. Jangan kaget jika karyawan baru itu mulai berani terlambat. Jangan kaget jika dia mulai menyepelekan aturan.
Itu bukan salah dia. Itu salah Anda. Anda yang gagal “membentuk”-nya di gerbang awal.