Oleh Mohammad Affan Basyaib
(Direktur ABAT Academy)
Coba tanya 10 pimpinan perusahaan. Tanya juga 10 kepala yayasan atau kepala sekolah. Apa aset terbesar organisasi Anda?Sembilan dari mereka, atau mungkin sepuluh-sepuluhnya, akan menjawab sama: “Manusia!”
Tentu saja. SDM. Sumber Daya Manusia. Karyawan. Pegawai. Tim. Apapun namanya.
Kita sudah hafal hal itu di luar kepala. Bahwa aset terpenting kita adalah manusia. Mereka yang menggerakkan mesin. Mereka yang melayani pelanggan. Mereka yang membuat inovasi.
Tapi, benarkah?
Bagaimana jika “aset” itu justru membuat Anda pusing tujuh keliling? Bagaimana jika “aset” itu datang ke kantor hanya untuk sekadar absen, lalu pulang? Inilah kenyataan pahit yang sering disembunyikan di ruang rapat pimpinan. Banyak pemimpin yang “makan hati” justru karena aset terbesarnya itu.
Mari kita bedah.
Ada karyawan yang fisiknya ada di kantor, tapi jiwanya entah di mana. Hadir. Tapi tidak produktif. Ia datang hanya untuk menunggu jam pulang. Motivasi? Nol besar. Ini bukan aset. Ini beban.
Ada lagi model kedua. Pengetahuannya minim. Keahliannya pas-pasan. Disuruh mengerjakan ini, jawabannya “tidak tahu”. Diberi tanggung jawab itu, hasilnya “tidak bisa”. Ia bekerja, tapi hasil kerjanya harus dikerjakan ulang oleh orang lain.
Yang paling parah adalah model ketiga: sikap dan perilakunya buruk.
Ilmunya mungkin ada. Keterampilannya mungkin lumayan. Tapi perilakunya? Toksik. Beracun. Suka mengeluh. Suka terlambat. Egois. Tidak mau bekerja sama dengan tim. Menusuk dari belakang. Hobi menyebarkan gosip.
Jika Anda memiliki “aset” model begini, lengkap sudah penderitaan Anda. “Lebih baik mengurusi mesin rusak daripada manusia rusak,” keluh seorang manajer suatu kali.
Sangat masuk akal.
Mesin kalau rusak, dia diam. Kita bisa panggil teknisi, ganti suku cadang, selesai. Kerusakannya jelas. Tapi manusia ‘rusak’? Dia tidak diam. Dia menyebar.
Satu orang yang toksik bisa merusak kinerja satu tim. Satu orang yang malas bisa menularkan kemalasannya ke rekan sebelahnya. Satu orang yang tidak disiplin akan membuat yang disiplin bertanya: “Buat apa saya disiplin, kalau dia saja boleh terlambat?”
Pimpinan jadi pusing. Manajer jadi mumet. Suasana kerja jadi tidak nyaman.
Jadi, mari kita koreksi jargon lama itu. Aset terbesar sebuah organisasi bukanlah “manusia”. Aset terbesar adalah manusia yang tepat. The right people.
Henry Ford, sang raja mobil legendaris itu, pernah berkata. “Anda boleh ambil pabrik saya. Ambil gedung saya. Ambil semua mesin saya. Tapi berikan saya orang-orang terbaik saya. Dalam sekejap, saya akan bangun kembali bisnis saya.”
Ford tidak bilang “berikan saya semua manusia”. Ia bilang “orang-orang terbaik saya”.
Pelajaran ini mahal harganya.
Bayangkan sebuah pabrik canggih. Mesinnya didatangkan dari Jerman. Sistem produksinya otomatis. Hebat sekali. Tapi, bahan baku yang dimasukkan ke mesin itu berkualitas jelek. Sampah. Apa yang akan keluar dari mesin canggih itu? Tetap saja produk jelek. Produk sampah.
Organisasi pun begitu. Yayasan bisa punya gedung megah. Sekolah bisa punya kurikulum mutakhir. Perusahaan bisa punya sistem IT termahal.
Tapi jika “bahan baku”-nya, yakni orang-orang yang direkrut dan bekerja di dalamnya, adalah orang-orang bermasalah… hancur organisasi itu. Sistem yang hebat akan diobrak-abrik oleh orang yang tidak kompeten. Gedung yang megah akan terasa suram oleh budaya kerja yang toksik.
Banyak organisasi terjebak di sini. Mereka sibuk memikirkan pelanggan. Sibuk memikirkan modal dan keuangan. Sibuk memikirkan supplier.
Mereka lupa. Kunci dari semua itu adalah siapa yang mengelolanya. Siapa timnya.
Maka, langkah pertama dalam mengelola organisasi menjadi sangat krusial: proses membentuk tim. Ini bukan sekadar mengisi lowongan yang kosong. Ini adalah tentang memastikan bahan baku yang masuk adalah bahan baku terbaik.
Jangan sampai salah rekrut. Jangan main-main di tahap ini. Jangan pakai tes napas – asal masih bernapas, diterima.
Karena sekali Anda salah memasukkan “bahan baku”, Anda tidak hanya rugi gaji. Anda akan rugi waktu, rugi energi, dan rugi kesehatan mental. Anda akan “makan hati” bertahun-tahun untuk memperbaiki kerusakan yang dibuatnya.