Sistem Oke, Orangnya?

Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Direktur ABAT Academy)

Jadi, kita sudah sepakat. Yayasan tidak bisa lagi dijalankan seperti paguyuban. Asal kumpul, modal semangat, dan ‘pokoknya jalan’. Tidak bisa. Kalau mau profesional dan tahan lama, ia harus naik kelas menjadi ‘Organisasi Sejati’. Yang sistemnya kuat dan orientasinya jangka panjang.

Resepnya pun sudah ada: POAC. Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Mesinnya sudah dirancang. Strukturnya sudah dipetakan. Mau strategis, taktis, atau teknis, semua ada levelnya. Beres.

Tapi, tunggu dulu.

Sistem secanggih apa pun, rencana sedetail apa pun, siapa yang menjalankan? Robot? Tentu bukan. Yang menjalankan adalah: Manusia. Aset terbesar. Begitu kata orang bijak.

Ah, tapi ada koreksi penting. Aset terbesar itu bukan sekadar manusia. Aset terbesar adalah manusia yang tepat.

Ini bedanya tipis, tapi menusuk.

Kenapa? Karena ‘manusia yang tidak tepat’ itu bukan aset. Mereka adalah beban. Sebut saja “manusia ruwet”. Manusia toksik. Yang motivasinya rendah, skill-nya pas-pasan, atau perilakunya buruk.

Di sinilah jembatannya. Percuma membangun sistem POAC yang rapi, jika yang mengisinya adalah ‘manusia ruwet’ tadi.

Analoginya jitu. Mengurus “mesin rusak” itu jauh lebih gampang daripada mengurus “manusia rusak”. Mesin rusak itu diam. Kita panggil teknisi, ganti suku cadang, selesai. Tapi “manusia rusak”? Wah. Dia tidak diam. Dia ‘nyebar’. Menularkan energi negatif, mempengaruhi tim, bikin pusing tujuh keliling.

Bayangkan: Planning (Perencanaan) sudah hebat, tapi yang Actuating (Melaksanakan) adalah orang-orang yang ogah-ogahan. Controlling (Pengawasan) sudah dirancang ketat, tapi orang yang diawasi tidak punya skill atau malah memusuhi sistem. Ambyar!

Maka, setelah yayasan paham cara membangun ‘mesin’ (Manajemen Organisasi), PR wajib berikutnya adalah memilih dan merawat ‘awak kapal’ (Manajemen SDM).

Ilmunya beda lagi. Tak bisa asal comot. Apalagi sekadar “tes nafas”—asal masih bernapas, diterima.

Harus ada strategi khusus. Setidaknya ada tiga tahap: Membentuk, Mengembangkan, Mengakselerasi.

“Membentuk” berarti merekrut orang yang tepat dan melakukan induksi (semacam orientasi) agar mereka paham budaya kerja yayasan. “Mengembangkan” berarti melatih skill mereka dan membangun budaya kerja yang sehat. “Mengakselerasi” berarti mengelola kinerja mereka agar maksimal, termasuk soal kompensasi.

Sistem yang hebat hanya akan berarti jika diisi oleh manusia yang tepat. Jika tidak, sistem itu hanya akan jadi dokumen mati. Dan yayasan kita? Tetap jadi ‘yayasan jadi-jadian’.

Share