Pemimpin vs Manajer

Pemimpin vs Manajer

oleh Mohammad Affan Basyaib
(Direktur ABAT Academy)

Istilah ‘pemimpin‘ dan ‘manajer’ (atau pengelola) sering dipakai bergantian. Dianggap sama saja. Banyak yang salah kaprah. Padahal, keduanya beda. Jauh. Dan memahami bedanya ini penting. Terutama bagi para punggawa yayasan dan lembaga nirlaba.

Begini bedanya, secara sederhana:

Memimpin (Leadership) itu intinya mempengaruhi (influence). Menggerakkan orang. Memotivasi. Mendorong. Fokus utamanya adalah manusia (people). Bagaimana agar orang mau ikut arahan? Bagaimana agar semangat tim tetap menyala? Bagaimana agar semua punya visi yang sama? Itu urusan inti seorang pemimpin. Pemimpin hebat bisa membuat orang rela berjuang habis-habisan demi tujuan bersama.

Mengelola (Management) itu intinya mengatur. Menata. Merapikan. Fokus utamanya pada pekerjaan (task) dan sistem. Bagaimana agar tugas selesai tepat waktu, sesuai standar? Bagaimana agar sumber daya (uang, waktu, alat) dipakai sehemat mungkin (efisien)? Bagaimana agar prosedur diikuti dengan benar? Itu urusan inti seorang manajer atau pengelola. Manajer hebat bisa membuat ‘mesin’ organisasi berjalan mulus, teratur, minim hambatan.

Lalu, mana yang lebih penting untuk yayasan? Jawabannya tegas: Dua-duanya! Ibarat dua sisi mata uang logam. Beda gambar, tapi tak terpisahkan nilainya.

Masalahnya, di lapangan, banyak yang timpang. Ada sosok yang karismatik, jago membakar semangat, disegani, dihormati. Orang nurut saja kalau dia bicara. Tapi kalau disuruh membuat sistem kerja yang rapi, merinci pembagian tugas, menata administrasi, wah, dia angkat tangan. Akibatnya? Organisasi bisa jalan karena ‘daya magis’ si pemimpin. Tapi begitu dia tak ada—pensiun, pindah, atau wafat—organisasi bisa langsung limbung. Karena sistemnya rapuh, terlalu bergantung pada satu orang.

Sebaliknya, ada juga sosok yang sangat rapi. Jago bikin rencana detail. SOP-nya lengkap. Laporan keuangannya presisi. Sistemnya tampak canggih. Tapi kalau diminta memotivasi tim yang sedang lesu, membangun visi jangka panjang yang menggugah, atau menangani konflik antar personal, dia kaku. Kurang bisa ‘menyentuh hati’. Akibatnya? Sistem mungkin berjalan baik, tapi terasa dingin. Orang-orang bekerja seperti robot, tanpa ‘roh’. Semangatnya gampang padam.

Yayasan atau lembaga yang sehat dan ingin berkelanjutan butuh keduanya. Idealnya, ada sosok di pucuk pimpinan yang punya kedua kemampuan itu: memimpin sekaligus mengelola. Kalaupun sulit menemukan sosok sempurna itu, setidaknya harus ada kombinasi orang-orang dengan kekuatan berbeda di jajaran pengurus. Harus saling melengkapi.

Yang otaknya ‘sistematis’, jangan lupa belajar memahami dan menyentuh hati manusia. Yang jago mengambil hati orang, jangan alergi belajar menata administrasi, prosedur, dan sistem kerja yang efisien.

Contoh paling dekat yaitu keluarga. Suami istri itu juga tim. Ada peran memimpin (mengarahkan visi keluarga, menanamkan nilai-nilai), ada juga peran mengelola (mengatur anggaran belanja, jadwal kegiatan anak, kebersihan rumah, dll). Kalau salah satu peran ini pincang atau diabaikan, rumah tangga bisa kurang harmonis, kurang terarah.

Jadi, coba tengok lagi lembaga Anda. Sudah seimbang porsi antara ‘memimpin orang’ dan ‘mengelola pekerjaan’? Atau jangan-jangan, selama ini terlalu berat sebelah? Kalau iya, mungkin sudah saatnya melakukan penyesuaian. Biar organisasinya tidak cuma sekadar jalan, tapi juga punya ‘nyawa’. Dan yang terpenting, bisa terus berlari kencang dalam jangka panjang.

Share