Yayasan Profesional Harus!

Yayasan Profesional Harus!

oleh Mohammad Affan Basyaib

(Direktur ABAT Academy)

Lihat sekeliling kita. Yayasan tumbuh subur. Di tiap gang, di tiap kota. Ada yang mengurus masjid, sekolah, panti asuhan, lembaga sosial, lembaga dakwah. Niat pendirinya? Luar biasa. Mulia. Semangat pengurusnya? Seringkali membara. Ikhlas? Jangan ditanya.

Tapi, coba sesekali kita intip ‘dapur’ mereka. Ruang kerjanya. Cara rapatnya. Laporan kegiatannya. Sudah serapi perusahaan multinasional? Atau masih terasa semrawut, serba darurat?

Ini bukan soal menyepelekan niat baik. Sama sekali bukan. Tapi mengelola lembaga, apalagi yang tujuannya melayani umat dan ingin berkelanjutan, ternyata butuh ilmu. Butuh keterampilan. Bukan sekadar modal semangat, ikhlas, dan rapat koordinasi sambil minum kopi.

Banyak yayasan hebat yang potensinya besar. Tapi jalannya masih ‘begitu-begitu saja’. Kenapa? Mungkin karena pengelolaannya masih tradisional. Masih mengandalkan kebiasaan lama. Sistem kerjanya belum tertata rapi. Perencanaan seringkali jangka pendek, reaktif terhadap masalah. Pengorganisasian tugas kadang tumpang tindih. Pelaksanaan tergantung ‘mood’ atau siapa yang sempat. Pengawasan? Seringkali longgar.

Akibatnya? Sumber daya (uang, waktu, tenaga manusia) tidak optimal. Program bagus, tapi dampaknya kurang terasa maksimal. Mau berkembang? Susah. Bertahan hidup saja kadang sudah ngos-ngosan. Padahal, kebutuhan umat terus bertambah. Tantangan zaman makin kompleks.

Di sinilah letak urgensinya: pengelola yayasan dan lembaga nirlaba harus melek manajemen. Ilmu mengelola ini sering dianggap ‘milik’ dunia bisnis, dunia korporasi yang cari untung. Padahal keliru besar. Justru lembaga non-profit yang sumber dayanya seringkali terbatas, wajib hukumnya menerapkan manajemen yang baik. Agar efisien. Agar efektif. Agar setiap rupiah donasi, setiap jam kerja relawan, benar-benar menghasilkan manfaat sebesar-besarnya.

Perlu punya visi-misi yang bukan sekadar pajangan di dinding. Perlu struktur organisasi yang jelas, bukan one-man show atau hanya sekedar ‘grup WA’. Perlu menerapkan siklus POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dalam setiap program. Perlu menyeimbangkan antara semangat menjalankan program dengan upaya mencari pendanaan yang berkelanjutan. Perlu membedakan kapan harus ‘memimpin’ (menginspirasi orang) dan kapan harus ‘mengelola’ (menata pekerjaan dan sistem).

Zaman sudah berubah. Mengelola yayasan di era digital, di tengah persaingan (ya, lembaga sosial pun ‘bersaing’ merebut perhatian dan sumber daya), tak cukup lagi hanya dengan semangat ‘pokoknya ikhlas dan jalan’. Perlu ilmu. Perlu strategi. Perlu profesionalisme.

Upaya-upaya peningkatan kapasitas, seperti yang mulai banyak digagas berbagai pihak, menjadi penting. Tapi bola utamanya tetap ada di tangan para pengurus yayasan itu sendiri. Ada kemauan kuat untuk belajar? Ada kerelaan untuk berubah, meninggalkan cara lama yang kurang efektif?

Jika jawabannya ‘ya’, maka masa depan yayasan itu akan lebih cerah. Manfaatnya bagi umat pun akan semakin besar dan berkelanjutan. Menjadi profesional itu bukan pilihan lagi. Tapi sebuah keharusan. Harus!

Share