Cetakan Rusak
Oleh Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University)
Hanya karena secarik kertas.
Ya, selembar surat rekomendasi. Gara-gara itu, dengan izin Allah, saya, Affan Basyaib, bisa terbang ke Riyadh.
Bukan sekadar terbang. Saya tembus King Saud University. Mulai dari program persiapan S1, hingga kini, sedang berjuang menempuh S3.
Surat itu, tentu saja, atas izin Allah, perantaranya adalah guru saya: Dr. (HC) Abdul Kadir Baradja. Telah berjasa mengantar saya hingga saat ini.
Saya memang memanggilnya guru. Sejak saya SMP, tiap Sabtu sore, saya rutin datang ke rumahnya. Menyerap ilmu. Beliau juga bukan orang sembarangan. Beliau adalah Ketua Yayasan Perguruan Al-Irsyad Surabaya. Itu sekolah saya. Sejak TK, SD, hingga SMP.
Juli 2025 kemarin, saya kembali mengunjunginya. Tradisi tahunan saat pulang ke Indonesia. Usianya kini 80 tahun—semoga Allah menjaganya—tapi nalarnya masih menikam. Pikirannya, seperti biasa, gelisah.
Kami diskusi berjam-jam.
Mulai dari mengapa Singapura maju, hingga mengapa lulusan S3 ITB sukses jualan pecel seharga Rp 100 ribu.
“Cetakan kita rusak,” ujarnya.
Itulah inti kegelisahan Ami Kadir Baradja. Dan “cetakan” yang ia maksud adalah Guru.
Selama beberapa hari ke depan, saya akan membagikan hasil diskusi kami in sya Allah. Ini bukan obrolan biasa. Ini adalah analisis akar masalah bangsa dari seorang praktisi pendidikan senior.
Kita akan bicara, mengapa gaji guru SD dulu Rp 750—cukup untuk membiayai dua anak kos di Bandung saat itu—tapi sekarang tidak lagi prestisius?
Kita akan bertanya, mengapa sistem Sekolah Guru Atas (SGA) kita yang hebat—asrama gratis empat tahun—kita buang, lalu ironisnya “dicontek” oleh Singapura dan kini Vietnam?
Kita akan bongkar, mengapa guru-guru “terbaik” kita di tes standar TOEFL 550, skor tertingginya hanya 450?
Ami Kadir Baradja juga akan menjelaskan mengapa nalar elite kita terbalik. Kenapa truk di jalan tol harusnya gratis? Kenapa subsidi petani ala Jepang—beli mahal jual rugi—jauh lebih strategis?
Kita akan menyentil soal krisis ulama. “Kita tidak punya ulama,” katanya. “Kita punyanya penceramah. Kapan mereka belajarnya?”
Dan akhirnya, mengapa mengganti pemimpin politik saat ini adalah sia-sia. “Gantinya podo ae,” (Gantinya sama saja), tegasnya.
Mengapa? Karena “cetakan“-nya sudah rusak. Kita kehabisan stok orang berkualitas.
Ini adalah serial tentang fondasi yang retak. Tentang guru.