Musibah Malas Berpikir

Musibah Malas Berpikir

oleh: Mohammad Affan Basyaib

(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University Riyadh)

KITA sekarang terbiasa.

Terbiasa dengan yang ringkas-ringkas. Yang gampang-gampang. Maunya yang mudah dipahami. Kalau bisa, yang sekali baca langsung mengerti.

Termasuk dalam urusan membaca kitab.

Dalam diskusiku dengan Syaikh Prof. Dr. Abdurrahman Asy-Syihri beberapa waktu yang lalu, beliau punya pandangan tajam soal ini. Beliau seorang Guru Besar Ilmu Tafsir Al-Qur’an di King Saud University Riyadh dan juga Direktur Markaz Tafsir.

Kata beliau, fenomena ini adalah “musibah“. Sebuah bencana.

Syaikh Abdurrahman bahkan memberinya nama khusus. Beliau menyebutnya: “Kemalasan Berpikir“.

Gejalanya sangat jelas. Para penuntut ilmu, kata beliau, tidak lagi memiliki kesiapan. Kesiapan untuk apa?

Untuk berhenti sejenak pada suatu ungkapan agar memeriksa kembali maknanya.”

Tidak mau repot. Tidak mau pusing. Maunya yang instan.

Apa yang mereka inginkan? “Mereka hanya ingin sebuah kitab tafsir dengan bahasa populer,” ujar Syaikh. Bahasa jurnalistik. Bahasa Mudah. Bahasa yang mengalir tanpa perlu kening berkerut.

Sekilas, ini tampak bagus. Efisien. Cepat dapat ilmunya. Tapi Syaikh melihat bahaya di baliknya.

Metode “jalan pintas” ini, kata beliau, “akan menghilangkan kekuatan dan kedalaman berpikirnya.”

Itu intinya. Kekuatan hilang. Kedalaman lenyap.

Kemampuan untuk menganalisis ungkapan yang padat menjadi tumpul. Pengetahuan tentang bagaimana para ulama terdahulu menyusun metode penulisan mereka, menguap begitu saja.

Kita tidak lagi terlatih membongkar makna. Kita hanya terlatih menerima. Ujungnya, kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga yaitu kedalaman berpikir. Sebuah musibah.

Padahal, ilmu itu ada di sana. Di balik kerumitan bahasa yang butuh perenungan.

Di dalam ungkapan yang menuntut kita untuk berpikir. Tapi kita kadung memilih yang ringan. Kita lebih suka disuapi, daripada mengunyah sendiri.

Ini bukan sekadar soal memilih buku yang mudah atau sulit. Ini soal mentalitas. Mentalitas yang enggan berjuang. Yang menghindari proses mengasah otak.

Jika otak jarang diajak “berolahraga” memecahkan ungkapan yang rumit, ia akan kehilangan ototnya. Dan “kemalasan berpikir” itu pun menjadi kebiasaan. Lalu, kita jadi generasi yang dangkal.

Share