Oleh: Mohammad Affan Basyaib
Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University
(Diskusi para mahasiswa S3 dengan Direktur International Student King Saud University)

Bukan teori. Bukan paparan buku teks. Yang bicara kali ini adalah “kepala dapurnya“, the man behind.
Namanya Iyadh Al-Tuwair.
Dialah Direktur Administrasi Mahasiswa Internasional di King Saud University (KSU). Posisinya strategis. Ia sengaja diundang untuk bicara di depan mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan.
Bicara “dari dapur”. Membongkar cara kerja Arab Saudi mengelola ribuan mahasiswa asing. Termasuk mahasiswa kita dari Indonesia.
Beasiswa. Apa itu? Amal?
Bukan. Bukan sekadar itu. Iyadh membuka wawasan. Ini adalah instrumen. Alat. Bahasa kerennya ya soft power.
Lihat saja sejarahnya. Universitas Oxford bikin program beasiswa tahun 1902. Tujuannya? Mendukung ekspansi kolonial Inggris. Amerika, tahun 1946, bikin Program Fulbright. Tujuannya? Memperbaiki citra pasca Perang Dunia II. Hollywood dan Beasiswa. Dua alat diplomasi publik yang efektif.
Saudi pun begitu. Tujuannya jelas: menyebar Islam moderat, meningkatkan citra positif Kerajaan, dan pertukaran budaya.
Ide ini sebenarnya sudah tua. Sangat tua. Iyadh melacaknya sampai 2700 SM, sejak tulisan ditemukan. Filsuf Yunani, Plato, sudah punya “akademi” di taman Akademos. Muridnya datang dari seluruh imperium.
Di era Islam, lebih hebat lagi. Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko didirikan oleh seorang wanita. Namanya Fatima al-Fihri. Modalnya? Wakaf. Dan universitas itu bertahan 12 abad!. Luar biasa Masya Allah Tabarakallah.
Tapi dulu, cara Saudi mengelola mahasiswa asing masih kuno. Sangat kuno. Lambat. Ngga Efektif.
KSU berdiri tahun 1957. Sejak angkatan pertama, sudah ada mahasiswa asing. Dari 21 mahasiswa, 3 di antaranya internasional. Tapi cara daftarnya? Kirim surat. Pakai pos.
“Seperti mengirim pesan dalam botol,” kata Iyadh, disambut tawa para mahasiswa calon doktor. Sampai atau tidak, diterima atau tidak, tidak ada yang tahu.
Semua berubah tahun 2010. Inilah titik baliknya.
Lahir “Keputusan Kerajaan Nomor 94”. Ini semacam “obrak-abrik” birokrasi. Peraturan ini membuat “matriks kewenangan”. Jelas siapa mengerjakan apa. Kementerian Pendidikan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri (Urusan Imigrasi), semua punya porsi jelas. Tidak bisa lagi saling lempar tanggung jawab.
Hasilnya?
Iyadh Al-Tuwair dan timnya di KSU langsung membedah aturan tersebut. Mereka memetakan semua kebutuhan mahasiswa dari A sampai Z
Terobosan terbesarnya adalah digitalisasi. Ngga kayak dulu lagi. Sekarang sudah lebih modern. Maju. Dalam satu genggaman. Nol kertas. Namanya “Yosr”. Tahu berapa layanan yang mereka ciptakan untuk mahasiswa internasional? 160 program dan layanan!.
Dari mengurus iqama (izin tinggal), layanan akademik, sampai pendaftaran kegiatan haji dan umrah. Semuanya online. Targetnya ya “nol kertas” (zero paper). Mahasiswa tidak perlu lagi wira-wiri bawa map bening dari satu gedung ke gedung lain.
Bahkan istilahnya pun diubah. Bukan lagi “Administrasi Beasiswa (إدارة المنح)” tapi “Administrasi Mahasiswa Internasional(إدارة الطلبة الدوليين).” Kenapa? “Sebab, kedepan akan ada skema yang berbayar sendiri atau partial atau melalui pembiayaan pihak ketiga. Kita harus melayani semua,” jelasnya. Ini soal perubahan cara pandang.
Saat sesi diskusi lebih menarik lagi bahasannya. Soal kerja.
Dulu, mahasiswa dengan visa studi yang disponsori universitas dilarang keras bekerja. Sekarang? Ada aturan baru. Namanya “Visa Pendidikan”. Berbeda dengan visa studi biasa.
Dengan visa baru ini, mahasiswa boleh kerja paruh waktu. 20 jam per minggu. Lewat platform resmi pemerintah yaitu “Ajeer”. Bahkan, setelah lulus, mereka boleh bekerja penuh waktu selama dua tahun di Saudi lewat platform lain namanya “Qiwa”.
Kini, Arab Saudi tidak lagi sekadar memberi beasiswa. Mereka mengelolanya secara profesional. Ada target spesialisasi, seperti memprioritaskan bidang sains dan teknik khususnya di KSU.
Sebuah perjalanan panjang. Dari tradisi luhur mencari ilmu, menjadi instrumen diplomasi, dan akhirnya menjadi sebuah sistem manajemen modern yang efisien.
Saudi benar-benar sedang berubah. Cepat sekali. Mereka sadar, mahasiswa internasional bukan sekadar angka. Mereka adalah duta. Mereka adalah aset soft power paling efektif. Dan kini, “dapur” untuk mengelola aset itu sedang di-upgrade besar-besaran.
