Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University)
Mau tahu kualitas sebuah bangsa? Canggih tidaknya peradaban mereka? Dengarkan saja cara mereka bicara. Lihat isi obrolan mereka. Karena dari lidah itulah terpancar isi kepala, selera, dan akal budi mereka.
Kalau hati sebuah masyarakat sudah terbiasa dengan keadilan, kebaikan, niat untuk memperbaiki, dan toleransi, maka obrolan mereka pun akan sejuk. Berisi. Punya makna.
Sebaliknya, kalau obrolannya sudah lain, maka kita patut curiga.
Apalagi kalau yang bicara itu orang berpengaruh. Entah itu seorang guru, seorang dai, kyai, ustadz, tokoh masyarakat, pejabat, atau bahkan sekadar presenter TV yang suka teriak-teriak.
Orang-orang seperti ini, kata-katanya punya efek dahsyat. Pengaruhnya meresap ke dalam jiwa para pengikutnya. Karena itu, seorang publik figur harus sadar betul bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya akan membentuk karakter pendengarnya.
Maka, publik figur yang hebat akan memperbanyak “obrolan vitamin”. Yaitu obrolan yang membangkitkan semangat, mendorong pada kebaikan, menebar optimisme, menyatukan hati, dan mengingatkan agar menjauhi keburukan.
Orang-orang di sekelilingnya—muridnya, pengikutnya, penggemarnya—secara otomatis akan menjadi “agen” yang menyebarkan nilai-nilai luhur itu.
Sebaliknya, ada juga publik figur yang hobinya menyebar “obrolan sampah”. Dan jenisnya banyak sekali:
Pertama, yang isinya cuma dua, ya kalau nggak soal perempuan, ya soal makanan. Obrolan yang “tidak menggemukkan badan, juga tidak mengenyangkan perut“. Betul-betul tidak ada gunanya.
Kedua, yang sukanya membahas hal-hal aneh. Mengupas gosip-gosip ngga jelas. Menyebarkan berita-berita heboh yang tidak ada ujung pangkalnya. Ini obrolan yang hanya akan membuat pendengarnya sakit.
Ketiga, tukang debat kusir. Isi majelisnya cuma adu mulut. Saling serang dengan argumen kosong, penuh dengan kata-kata kasar dan sumpah serapah. Orang-orang di sekitarnya pun akan tertular virus yang sama.
Silakan ukur sendiri. Kenyataannya akan membuktikan.
Dari sini kita bisa lihat dengan jelas. Obrolan yang berkualitas itu adalah cerminan dari jiwa yang sehat, selera yang tinggi, dan semangat yang membara.
Sebaliknya, obrolan yang buruk adalah tanda pasti dari jiwa yang sakit, selera yang rendah, dan semangat yang sudah tumbang. Sesederhana itu.