Kampus Bukan Menara Gading

Kampus Bukan Menara Gading

oleh Mohammad Affan Basyaib, Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University.

RIYADH, 8 SEPTEMBER 2025Mengapa sebagian pemimpin bisa menginspirasi, sementara yang lain hanya memegang jabatan?

Jawabannya jarang terletak pada apa yang mereka lakukan, tetapi mengapa mereka melakukannya. Di jenjang doktoral ini, kami tahu bahwa ilmu sejati tidak hanya tentang teori apa atau prosedur bagaimana, melainkan tentang mencari filosofi di balik setiap keputusan atau teori tersebut.

Saya ini orang Indonesia yang jauh-jauh menempuh ribuan kilometer ke Arab Saudi untuk studi S3 Manajemen Pendidikan di King Saud University (KSU). Tentu, harapan saya adalah bertemu dengan para pemimpin hebat yang bisa menjembatani teori dan praktik, serta berbagi strategi dan pengalaman nyata mereka saat memimpin di lapangan.

Jadilah saya dan teman-teman S3 lainnya mengadakan kuliah tamu. Narasumbernya pun bukan sembarangan, Prof. Dr. Ali Al-Dalbakhi, Dekan Urusan Kemahasiswaan KSU.

Mata kuliah kami, Applied Higher Educational Management, memang sedang cari real experience. Kata dosen saya, Dr. Anas At-Tuwaijiry, tahun ini harus ada kehadiran fisik, bukan cuma online. Jadi, kami putar otak: panggil orang yang benar-benar mengalami di lapangan. Dan nama Prof. Ali langsung muncul di daftar pertama. Pas, karena urusan kemahasiswaan ini bakal nyambung banget sama riset tesis kami kedepannya.

Di tengah obrolan santai, ditemani kopi Arab yang pekat dan kurma khas budaya Saudi yang bikin diskusi jadi akrab, Prof. Ali bongkar rahasia dapurnya di Dekanat Kemahasiswaan.

Dekanat Kemahasiswaan itu, katanya, tugas utamanya tiga: Membangun Keterampilan Non-Akademik, Memberikan Pengayoman, dan Memberikan Layanan. Bukan cuma soal urusan administrasi seperti stempel dan surat menyurat.

Tapi yang bikin saya tercengang saat Prof. Ali bercerita tentang Dana Mahasiswa (Student Fund) yang ternyata Prof. Ali adalah ketuanya disana. Jadi di KSU ini ada namanya إدارة صندوق الطلاب (Student Fund Management) yang secara sistem manajemennya itu terpisah dari manajemen KSU, bisa dikatakan otonom gitu, sesuai dengan penjelasan beliau.

Nah mahasiswa itu mendapatkan beasiswa setiap bulan dan dipotong 10 riyal ke Program Dana Mahasiswa itu. Bayangkan, setiap mahasiswa hanya dipotong 10 Riyal per bulan. Sepuluh riyal! Tapi karena KSU punya ribuan mahasiswa, uang itu terkumpul dan diinvestasikan. Totalnya? Sudah mencapai satu miliar riyal!

Mereka tidak menyimpan uang itu di bank begitu saja. Mereka membuat uang itu bekerja. Dana itu diinvestasikan ke properti industri, rumah sakit, dan tanah. Uang receh 10 riyal itu berubah jadi mesin pencetak uang yang hasilnya kembali untuk membiayai beasiswa, kegiataan kemahasiswaan bahkan layanan dan well-being mahasiswa. Ini mindset manajemen finansial yang wajib kita tiru dan salah satu sistem fundraising yang sangat menarik.

Prof. Ali juga cerita soal transformasi birokrasi. Beliau masuk ke Dekanat yang sebelumnya adem ayem, kantornya kusam, isinya pegawai yang ogah-ogahan.

Lalu beliau lakukan total overhaul. Ganti orang, ganti sistem, bahkan ganti lampu dan perabotan. Intinya, fokus pada kualitas dan kompetensi. Beliau mencari pemimpin yang kuat, bahkan jika beliau harus mengambilnya dari para dosen di kampus yang belum pernah memimpin secara birokratis.

Terus beliau bercerita tentang sebuah kisah yang menurutku paling menarik yaitu tentang seorang mahasiswa yang bernama Sa’ad. Mahasiswa ini IPK Fisikanya rendah, tapi dia aktif luar biasa di kegiatan kemahasiswaan di kampus. Sa’ad belajar negosiasi, manajemen event skala besar, dan problem solving.

Apa hasilnya? Sa’ad lulus, ditawari gaji besar di perusahaan, tapi dia tolak. Dia pilih kerja di Kementerian Media (وزارة الإعلام). Sekarang? Sa’ad sudah menjadi staf kunci di belakang Menteri Media! IPK-nya mungkin biasa, tapi soft skill dan jam terbangnya luar biasa.

Prof. Ali bilang, beliau dan timnya tidak takut pada mahasiswa yang ngeyel dan serba cepat. Justru, mereka membiarkan mahasiswa mengajukan ide, membuat klub (ada lebih dari 100 klub!), klub ini semacam ekskul gitu di indonesia, bahkan menyelenggarakan hackathon. Kampus hanya perlu mengarahkan, bukan menghalangi.

“Mahasiswa itu cerdas. Mereka hanya perlu didorong dan diperhatikan,” kata Prof. Ali.

Apa makna sebenarnya dari semua angka, struktur, dan strategi out-of-the-box yang dibagikan Prof. Ali?

Bukan sekadar bagaimana sebuah dekanat kemahasiswaan itu menjadi efisien. Tapi bagaimana kepemimpinan sejati adalah tentang mindset yaitu berani melihat potensi di tempat yang tak terduga (seperti pada Sa’ad dan para wakil-wakilnya), berani membuat uang receh 10 riyal bekerja keras, dan selalu memastikan ada مرونة (keluwesan) di balik setiap peraturan.

Sesi ini, ditemani secangkir kopi panas dan diskusi akrab, menegaskan satu hal bahwa tugas kami sebagai mahasiswa S3 bukan hanya menguasai teori, melainkan menjadi arsitek sistem yang memanusiakan manusia.

Semoga insight ini menjadi bekal berharga—bukan sekadar penutup kuliah, tetapi pembuka babak baru dalam perjalanan kita mencari hakikat kepemimpinan pendidikan.

Share